Makalah Ulumul Hadits – Kutubus Sittah
BAB I
PENDAHULUAN
Sumber dari segala sumber hukum yang
utama atau yang pokok di dalam agama Islam adalah Al-Qur’an dan
As-Sunnah. Selain sebagai sumber hukum, Al-Qur’an dan As-Sunnah juga
merupakan sumber ilmu pengetahuan yang universal. Isyarat sampai kepada
ilmu yg mutakhir telah tercantum di dalamnya. Oleh kerananya siapa yang
ingin mendalaminya, maka tidak akan ada habis-habisnya keajaibannya.
Untuk mengetahui As-Sunnah atau
hadith-hadith Nabi, maka salah satu dari beberapa bahagian penting yang
tidak kalah menariknya untuk diketahui adalah mengetahui profil atau
sejarah orang-orang yang mengumpulkan hadith, yang dengan jasa-jasa
mereka kita yang hidup pada zaman sekarang ini dapat dengan mudah
memperoleh sumber hukum secara lengkap dan sistematis serta dapat
melaksanakan atau meneladani kehidupan Rasulullah untuk beribadah
seperti yang dicontohkannya.
Abad ketiga Hijriah merupakan kurun
waktu terbaik untuk menyusun atau menghimpun Hadith Nabi di dunia Islam.
waktu itulah hidup enam penghimpun ternama Hadith Shahih yaitu:
1. Imam Bukhari
2. Imam Muslim
3. Imam Abu Daud
4. Imam Tirmidzi
5. Imam Nasa’i
6. Imam Ibnu Majah
2. Imam Muslim
3. Imam Abu Daud
4. Imam Tirmidzi
5. Imam Nasa’i
6. Imam Ibnu Majah
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
IMAM BUKHARI
Tokoh Islam penghimpun dan penyusun
hadith itu banyak, dan yang lebih terkenal di antaranya seperti yang
disebut diatas. Adapun urutan pertama yang paling terkenal diantara enam
tokoh tersebut di atas adalah Amirul-Mu’minin fil-Hadith (pemimpin
orang mukmin dalam hadith), suatu gelar ahli hadith tertinggi. Nama
lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn
al-Mughirah ibn Bardizbah. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, terkenal
kemudian sebagai Imam Bukhari, lahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H (21
Juli 810 M), cucu seorang Persia bernama Bardizbah. Kakeknya,
Bardizbah, adalah pemeluk Majusi, agama kaumnya. Kemudian putranya,
al-Mughirah, memeluk Islam di bawah bimbingan al-Yaman al Ja’fi,
gubernur Bukhara. Pada masa itu Wala dinisbahkan kepadanya. Kerana
itulah ia dikatakan “al-Mughirah al-Jafi.”
Mengenai kakeknya, Ibrahim, tidak
terdapat data yang menjelaskan. Sedangkan ayahnya, Ismail, seorang ulama
besar ahli hadith. Ia belajar hadith dari Hammad ibn Zayd dan Imam
Malik. Riwayat hidupnya telah dipaparkan oleh Ibn Hibban dalam kitab
As-Siqat, begitu juga putranya, Imam Bukhari, membuat biografinya dalam
at-Tarikh al-Kabir.
Ayah Bukhari disamping sebagai orang
berilmu, ia juga sangat wara’ (menghindari yang subhat/meragukan dan
haram) dan taqwa. Diceritakan, bahawa ketika menjelang wafatnya, ia
berkata: “Dalam harta yang kumiliki tidak terdapat sedikitpun wang yang
haram maupun yang subhat.” Dengan demikian, jelaslah bahawa Bukhari
hidup dan terlahir dalam lingkungan keluarga yang berilmu, taat beragama
dan wara’. Tidak hairan jika ia lahir dan mewarisi sifat-sifat mulia
dari ayahnya itu.
Ia dilahirkan di Bukhara setelah salat
Jum’at. Tak lama setelah bayi yang baru lahr itu membuka matanya, iapun
kehilangan penglihatannya. Ayahnya sangat bersedih hati. Ibunya yang
saleh menagis dan selalu berdo’a ke hadapan Tuhan, memohon agar bayinya
bisa melihat. Kemudian dalam tidurnya perempuan itu bermimpi didatangi
Nabi Ibrahim yang berkata:
“Wahai ibu, Allah telah menyembuhkan
penyakit putramu dan kini ia sudah dapat melihat kembali, semua itu
berkat do’amu yang tiada henti-hentinya.”
Ketika ia terbangun, penglihatan bayinya sudah normal. Ayahnya meninggal di waktu dia masih kecil dan meninggalkan banyak harta yang memungkinkan ia hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Dia dirawat dan dididik oleh ibunya dengan tekun dan penuh perhatian.
Ketika ia terbangun, penglihatan bayinya sudah normal. Ayahnya meninggal di waktu dia masih kecil dan meninggalkan banyak harta yang memungkinkan ia hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Dia dirawat dan dididik oleh ibunya dengan tekun dan penuh perhatian.
Keunggulan dan kejeniusan Bukhari sudah
nampak semenjak masih kecil. Allah menganugerahkan kepadanya hati yang
cerdas, pikiran yang tajam dan daya hafalan yang sangat kuat,
teristimewa dalam menghafal hadith. Ketika berusia 10 tahun, ia sudah
banyak menghafal hadith. Pada usia 16 tahun ia bersama ibu dan abang
sulungnya mengunjungi berbagai kota suci. Kemudian ia banyak menemui
para ulama dan tokoh-tokoh negerinya untuk memperoleh dan belajar
hadith, bertukar pikiran dan berdiskusi dengan mereka. Dalam usia 16
tahun, ia sudah hafal kitab sunan Ibn Mubarak dan Waki, juga mengetahui
pendapat-pendapat ahli ra’yi (penganut faham rasional), dasar-dasar dan
mazhabnya.
Rasyid ibn Ismail, abangnya yang tertua
menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberpa murid lainnya mengikuti
kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya,
Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia dicela membuang waktu
dengan percuma kerana tidak mencatat. Bukhari diam tidak menjawab. Pada
suatu hari, kerana merasa kesal terhadap celaan yang terus-menerus itu,
Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka. Tercenganglah
mereka semua kerana Bukhari ternyata hapal di luar kepala 15.000
haddits, lengkap terinci dengan keterangan yang tidak sempat mereka
catat.
Pengembaraan Bukhari
Tahun 210 H, Bukhari berangkat menuju
Baitullah untuk menunaikan ibadah haji, disertai ibu dan saudaranya,
Ahmad. Saudaranya yang lebih tua ini kemudian pulang kembali ke Bukhara,
sedang dia sendiri memilih Mekah sebagai tempat tinggalnya. Mekah
merupakan salah satu pusat ilmu yang penting di Hijaz. Sewaktu-waktu ia
pergi ke Madinah. Di kedua tanah suci itulah ia menulis sebahagian
karya-karyanya dan menyusun dasar-dasar kitab Al-Jami’as-Shahih dan
pendahuluannya.
Ia menulis Tarikh Kabir-nya di dekat
makam Nabi s.a.w. dan banyak menulis pada waktu malam hari yang terang
bulan. Sementara itu ketiga buku tarikhnya, As-Sagir, Al-Awsat dan
Al-Kabir, muncul dari kemampuannya yang tinggi mengenai pengetahuan
terhadap tokoh-tokoh dan kepandaiannya bemberikan kritik, sehingga ia
pernah berkata bahawa sedikit sekali nama-nama yang disebutkan dalam
tarikh yang tidak ia ketahui kisahnya.
Kemudian ia pun memulai studi perjalanan
dunia Islam selama 16 tahun. Dalam perjalanannya ke berbagai negeri,
hampir semua negeri Islam telah ia kunjungi sampai ke seluruh Asia
Barat. Diceritakan bahawa ia pernah berkata: “Saya telah mengunjungi
Syam, Mesir, dan Jazirah masing-masing dua kali, ke basrah empat kali,
menetap di Hijaz (Mekah dan Madinah) selama enam tahun dan tak dapat
dihitung lagi berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk
menemui ulama-ulama ahli hadith.”
Pada waktu itu, Baghdad adalah ibu kota
negara yang merupakan gudang ilmu dan ulama. Di negeri itu, ia sering
menemui Imam Ahmad bin Hambal dan tidak jarang ia mengajaknya untuk
menetap di negeri tersebut dan mencelanya kerana menetap di negeri
Khurasan.
Dalam setiap perjalanannya yang
melelahkan itu, Imam Bukhari senantiasa menghimpun hadith-hadith dan
ilmu pengetahuan dan mencatatnya sekaligus. Di tengah malam yang sunyi,
ia bangun dari tidurnya, menyalakan lampu dan menulis setiap masalah
yang terlintas di hatinya, setelah itu lampu di padamkan kembali.
Perbutan ini ia lakukan hampir 20 kali setiap malamnya. Ia merawi hadith
dari 80.000 perawi, dan berkat ingatannya yang memang super jenius, ia
dapat menghapal hadith sebanyak itu lengkap dengan sumbernya.
Kemashuran Imam Bukhari
Kemasyhuran Imam Bukhari segera mencapai
bahagian dunia Islam yang jauh, dan ke mana pun ia pergi selalu di
alu-alukan. Masyarakat hairan dan kagum akan ingatannya yang luar biasa.
Pada tahun 250 H. Imam Bukhari mengunjungi Naisabur. Kedatangannya
disambut gembira oleh para penduduk, juga oleh gurunya, az-Zihli dan
para ulama lainnya.
Imam Muslim bin al-Hajjaj, pengarang
kitab as-Shahih Muslim menceritakan: “Ketika Muhammad bin Ismail datang
ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama
dan penduduk Naisabur memberikan sambutan seperti apa yang mereka
berikan kepadanya.” Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh
dua atau tiga marhalah (± 100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya
az-Zihli berkata: “Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin
Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut
menyambutnya. Esok paginya Muhammad bin Yahya az-Zihli, sebahagian ulama
dan penduduk Naisabur menyongsong kedatangan Imam Bukhari, ia pun lalu
memasuki negeri itu dan menetap di daerah perkampungan orang-orang
Bukhara. Selama menetap di negeri itu, ia mengajarkan hadith secara
tetap. Sementara itu, az-zihli pun berpesan kepada para penduduk agar
menghadiri dan mengikuti pengajian yang diberikannya. Ia berkata:
“Pergilah kalian kepada orang alim yang saleh itu, ikuti dan dengarkan
pengajiannya.”
Imam Bukhari Difitnah
Tak lama kemudian terjadi fitnah
terhadap Imam bukhari atas perbuatan orang-orang yang iri dengki. Mereka
meniupkan tuduhannya kepada Imam Bukhari sebagai orang yang berpendapat
bahawa “Al-Qur’an adalah makhluk.” Hal inilah yang menimbulkan
kebencian dan kemarahan gurunya, az-Zihli kepadanya, sehingga ia
berkata: “Barang siapa berpendapat lafaz-lafaz Al-Qur’an adalah makhluk,
maka ia adalah ahli bid’ahh. Ia tidak boleh diajak bicara dan majlisnya
tidak boleh di datangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majlisnya,
curigailah dia.” Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai
menjauhinya.
Pada hakikatnya, Imam Bukhari terlepas
dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seorang berdiri
dan mengajukan pertanyaan kepadanya: “Bagaimana pendapat Anda tentang
lafaz-lafaz Al-Qur’an, makhluk ataukah bukan?” Bukhari berpaling dari
orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan sampai
tiga kali. Tetapi orang tersebut terus mendesaknya, maka ia menjawab:
“Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan
manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid’ah.” Yang dimaksud
dengan perbuatan manusia adalah bacaan dan ucapan mereka. Pendapat yang
dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca
dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli
tahqiq dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta dan tuli.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahawa
Bukhari perbah berkata: “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa
bertambah dan bisa berkurang. Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan
makhluk. Sahabat Rasulullah SAW. yang paling utama adalah Abu Bakar,
Umar, Usman kemudian Ali. Dengan berpegang pada keyakinan dan keimanan
inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya
Allah.” Demikian juga ia pernah berkata: “Barang siapa menuduhku
berpendapat bahawa lafaz-lafaz Al-Qur’an adalah makhluk, ia adalah
pendusta.”
Az-Zahli benar-benar telah murka
kepadanya, sehingga ia berkata: “Lelaki itu (Bukhari) tidak boleh
tinggal bersamaku di negeri ini.” Oleh kerana Imam Bukhari berpendapat
bahawa keluar dari negeri itu lebih baik, demi menjaga dirinya, dengan
hrapan agar fitnah yang menimpanya itu dapat mereda, maka ia pun
memutuskan untuk keluar dari negeri tersebut.
Setelah keluar dari Naisabur, Imam
Bukhari pulang ke negerinya sendiri, Bukhara. Kedatangannya disambut
meriah oleh seluruh penduduk. Untuk keperluan itu, mereka mengadakan
upacara besar-besaran, mendirikan kemah-kemah sepanjang satu farsakh (± 8
km) dari luar kota dan menabur-naburkan uang dirham dan dinar sebagai
manifestasi kegembiraan mereka. Selama beberapa tahun menetap di
negerinya itu, ia mengadakan majlis pengajian dan pengajaran hadith.
Tetapi kemudian badai fitnah datang
lagi. Kali ini badai itu datang dari penguasa Bukhara sendiri, Khalid
bin Ahmad az-Zihli, walaupun sebabnya timbul dari sikap Imam Bukhari
yang terlalu memuliakan ilmu yang dimlikinya. Ketika itu, penguasa
Bukhara, mengirimkan utusan kepada Imam Bukhari, supaya ia mengirimkan
kepadanya dua buah karangannya, al-Jami’ al-Shahih dan Tarikh. Imam
Bukhari keberatan memenuhi permintaan itu. Ia hanya berpesan kepada
utusan itu agar disampaikan kepada Khalid, bahawa “Aku tidak akan
merendahkan ilmu dengan membawanya ke istana. Jika hal ini tidak
berkenan di hati tuan, tuan adalah penguasa, maka keluarkanlah larangan
supaya aku tidak mengadakan majlis pengajian. Dengan begitu, aku
mempunyai alas an di sisi Allah kelak pada hari kiamat, bahawa
sebenarnya aku tidak menyembunyikan ilmu.” Mendapat jawaban seperti itu,
sang penguasa naik pitam, ia memerintahkan orang-orangnya agar
melancarkan hasutan yang dapat memojokkan Imam Bukhari. Dengan demikian
ia mempunyai alas an untuk mengusir Imam Bukhari. Tak lama kemudian Imam
Bukhari pun diusir dari negerinya sendiri, Bukhara.
Imam Bukhari, kemudian mendo’akan tidak
baik atas Khalid yang telah mengusirnya secara tidak sah. Belum sebulan
berlalu, Ibn Tahir memerintahkan agar Khalid bin Ahmad dijatuhi hukuman,
dipermalukan di depan umum dengan menungang himar betina. Maka hidup
sang penguasa yang dhalim kepada Imam Bukhari itu berakhir dengan
kehinaan dan dipenjara.
Wafat Imam Bukhari
Imam Bukhari tidak saja mencurahkan
seluruh intelegensi dan daya ingatnnya yang luar biasa itu pada karya
tulisnya yang terpenting, Shahih Bukhari, tetapi juga melaksanakan tugas
itu dengan dedikasi dan kesalehan. Ia selalu mandi dan berdo’a sebelum
menulis buku itu. Sebahagian buku tersebut ditulisnya di samping makan
Nabi di Madinah.
Imam Durami, guru Imam Bukhari, mengakui keluasan wawasan hadith muridnya ini: “Di antara ciptaan Tuhan pada masanya, Imam Bukharilah agaknya yang paling bijaksana.”
Imam Durami, guru Imam Bukhari, mengakui keluasan wawasan hadith muridnya ini: “Di antara ciptaan Tuhan pada masanya, Imam Bukharilah agaknya yang paling bijaksana.”
Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim
surat kepada Imam Bukhari yang isinya meminta ia supaya menetap di
negeri mereka. Maka kemudian ia pergi untuk memenuhi permohonan mereka.
Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah dsa kecil yang terletak
dua farsakh sebelum Samarkand, dan desa itu terdapat beberapa familinya,
ia pun singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi mereka. Tetapi di desa
itu Imam Bukhari jatuh sakit hingga menemui ajalnya.
Ia wafat pada malam Idul Fitri tahun 256
H. (31 Agustus 870 M), dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Sebelum
meninggal dunia, ia berpesan bahawa jika meninggal nanti jenazahnya agar
dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban.
Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Jenazahnya
dikebumikan lepas dzuhur, hari raya Idul Fitri, sesudah ia melewati
perjalanan hidup panjang yang penuh dengan berbagai amal yang mulia.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya.
Guru-Guru Imam Bukhari
Pengembaraannya ke berbagai negeri telah
mempertemukan Imam Bukhari dengan guru-guru yang berbobot dan dapat
dipercaya, yang mencapai jumlah sangat banyak. Diceritakan bahawa dia
menyatakan: “Aku menulis hadith yang diterima dari 1.080 orang guru,
yang semuanya adalah ahli hadith dan berpendirian bahawa iman adalah
ucapan dan perbuatan.” Di antara guru-guru besar itu adalah Ali ibn
al-Madini, Ahmad ibn Hanbal, Yahya ibn Ma’in, Muhammad ibn Yusuf
al-Faryabi, Maki ibn Ibrahim al-Bakhi, Muhammad ibn Yusuf al-Baykandi
dan Ibn Rahawaih. Guru-guru yang hadithnya diriwayatkan dalam kitab
Shahih-nya sebanyak 289 orang guru.
Keutamaan Dan Keistimewaan Imam Bukhari
Kerana kemasyhurannya sebagai seorang
alim yang super jenius, sangat banyak muridnya yang belajar dan
mendengar langsung hadithnya dari dia. Tak dapat dihitung dengan pasti
berapa jumlah orang yang meriwayatkan hadith dari Imam Bukhari, sehingga
ada yang berpendapat bahawa kitab Shahih Bukhari didengar secara
langsung dari dia oleh sembilan puluh ribu (90.000) orang (Muqaddimah
Fathul-Bari, jilid 22, hal. 204). Di antara sekian banyak muridnya yang
paling menonjol adalah Muslim bin al-Hajjaj, Tirmidzi, Nasa’i, Ibn
Khuzaimah, Ibn Abu Dawud, Muhammad bin Yusuf al-Firabri, Ibrahim bin
Ma’qil al-Nasafi, Hammad bin Syakr al-Nasawi dan Mansur bin Muhammad
al-Bazdawi. Empat orang yang terakhir ini merupakan yang paling masyhur
sebagai perawi kitab Shahih Bukhari.
Dalam bidang kekuatan hafalan, ketazaman
pikiran dan pengetahuan para perawi hadith, juga dalam bidang ilat-ilat
hadith, Imam Bukhari merupakan salah satu tanda kekuasaan (ayat) dan
kebesaran Allah di muka bumi ini. Allah telah mempercayakan kepada
Bukhari dan para pemuka dan penghimpun hadith lainnya, untuk menghafal
dan menjaga sunah-sunah Nabi kita Muhammad SAW. Diriwayatkan, bahawa
Imam Bukhari berkata: “Saya hafal hadith di luar kepala sebanyak 100.000
buah hadith shahih, dan 200.000 hadith yang tidak shahih.”
Mengenai kejeniusan Imam Bukhari dapat
dibuktikan pada kisah berikut. Ketika ia tiba di Baghdad, ahli-ahli
hadith di sana berkumpul untuk menguji kemampuan dan kepintarannya.
Mereka mengambil 100 buah hadith, lalu mereka tukar-tukarkan sanad dan
matannya (diputar balikkan), matan hadith ini diberi sanad hadith lain
dan sanad hadith lain dinbuat untuk matan hadith yang lain pula. 10
orang ulama tampil dan masing-masing mengajukan pertanyaan sebanyak 10
pertanyaan tentang hadith yang telah diputarbalikkan tersebut. Orang
pertama tampil dengan mengajukan sepuluh buah hadith kepada Bukhari, dan
setiap orang itu selesai menyebutkan sebuah hadith, Imam Bukhari
menjawab dengan tegas: “Saya tidak tahu hadith yang Anda sebutkan ini.”
Ia tetap memberikan jawaban serupa sampai kepada penanya yang ke
sepuluh, yang masing-masing mengajukan sepuluh pertanyaan. Di antara
hadirin yang tidak mengerti, memastikan bahawa Imam Bukhari tidak akan
mungkin mampu menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan itu, sedangkan
para ulama berkata satu kepada yang lainnya: “Orang ini mengetahui apa
yang sebenarnya.”
Setelah 10 orang semuanya selesai
mengajukan semua pertanyaannya yang jumlahnya 100 pertanyaan tadi,
kemudian Imam Bukhari melihat kepada penanya yang pertama dan berkata:
“Hadith pertama yang anda kemukakan isnadnya yang benar adalah begini;
hadith kedua isnadnya yang benar adalah beginii…”
Begitulah Imam Bukhari menjawab semua
pertanyaan satu demi satu hingga selesai menyebutkan sepuluh hadith.
Kemudian ia menoleh kepada penanya yang kedua, sampai menjawab dengan
selesai kemudian menoleh kepada penanya yang ketiga sampai menjawab
semua pertanyaan dengan selesai sampai pada penanya yang ke sepuluh
sampai selesai. Imam Bukhari menyebutkan satu persatu hadith-hadith yang
sebenarnya dengan cermat dan tidak ada satupun dan sedikitpun yang
salah dengan jawaban yang urut sesuai dengan sepuluh orang tadi
mengeluarkan urutan pertanyaanya. Maka para ulama Baghdad tidak dapat
berbuat lain, selain menyatakan kekagumannya kepada Imam Bukhari akan
kekuatan daya hafal dan kecemerlangan pikirannya, serta mengakuinya
sebagai “Imam” dalam bidang hadith.
Sebahagian hadirin memberikan komentar
terhadap “uji cuba kemampuan” yang menegangkan ini, ia berkata: “Yang
mengagumkan, bukanlah kerana Bukhari mampu memberikan jawaban secara
benar, tetapi yang benar-benar sangat mengagumkan ialah kemampuannya
dalam menyebutkan semua hadith yang sudah diputarbalikkan itu secara
berurutan persis seperti urutan yang dikemukakan oleh 10 orang penguji,
padahal ia hanya mendengar pertanyaan-pertanyaan yang banyak itu hanya
satu kali.”Jadi banyak pemirsa yang hairan dengan kemampuan Imam Bukhari
mengemukakan 100 buah hadith secara berurutan seperti urutannya si
penanya mengeluarkan pertanyaannya padahal beliau hanya mendengarnya
satu kali, ditambah lagi beliau membetulkan rawi-rawi yang telah
diputarbalikkan, ini sungguh luar biasa.
Imam Bukhari pernah berkata: “Saya tidak
pernah meriwayatkan sebuah hadith pun juga yang diterima dari para
sahabat dan tabi’in, melainkan saya mengetahui tarikh kelahiran
sebahagian besar mereka, hari wafat dan tempat tinggalnya. Demikian juga
saya tidak meriwayatkan hadith sahabat dan tabi’in, yakni hadith-hadith
mauquf, kecuali ada dasarnya yang kuketahui dari Kitabullah dan sunah
Rasulullah SAW.”
Dengan kedudukannya dalam ilmu dan
kekuatan hafalannya Imam Bukhari sebagaimana telah disebutkan, wajarlah
jika semua guru, kawan dan generasi sesudahnya memberikan pujian
kepadanya. Seorang bertanya kepada Qutaibah bin Sa’id tentang Imam
Bukhari, ketika menyatakan : “Wahai para penenya, saya sudah banyak
mempelajari hadith dan pendapat, juga sudah sering duduk bersama dengan
para ahli fiqh, ahli ibadah dan para ahli zuhud; namun saya belum pernah
menjumpai orang begitu cerdas dan pandai seperti Muhammad bin Isma’il
al-Bukhari.”
Imam al-A’immah (pemimpin para imam) Abu
Bakar ibn Khuzaimah telah memberikan kesaksian terhadap Imam Bukhari
dengan mengatakan: “Di kolong langit ini tidak ada orang yang mengetahui
hadith, yang melebihi Muhammad bin Isma’il.” Demikian pula semua
temannya memberikan pujian. Abu Hatim ar-Razi berkata: “Khurasan belum
pernah melahirkan seorang putra yang hafal hadith melebihi Muhammad bin
Isma’il; juga belum pernah ada orang yang pergi dari kota tersebut
menuju Iraq yang melebihi kealimannya.”
Al-Hakim menceritakan, dengan sanad
lengkap. Bahawa Muslim (pengarang kitab Shahih), datang kepada Imam
Bukhari, lalu mencium antara kedua matanya dan berkata: “Biarkan saya
mencium kaki tuan, wahai maha guru, pemimpin para ahli hadith dan dokter
ahli penyakit (ilat) hadith.” Mengenai sanjungan diberikan ulama
generasi sesudahnya, cukup terwakili oleh perkataan al-Hafiz Ibn Hajar
yang menyatakan: “Andaikan pintu pujian dan sanjungan kepada Bukhari
masih terbuka bagi generasi sesudahnya, tentu habislah semua kertas dan
nafas. Ia bagaikan laut tak bertepi.”
Imam Bukhari adalah seorang yang
berbadan kurus, berperawakan sedang, tidak terlalu tinggi juga tidak
pendek; kulitnya agak kecoklatan dan sedikit sekali makan. Ia sangat
pemalu namun ramah, dermawan, menjauhi kesenangan dunia dan cinta
akhirat. Banyak hartanya yang disedekahkan baik secara sembunyi maupun
terang-terangan, lebih-lebih untuk kepentingan pendidikan dan para
pelajar. Kepada para pelajar ia memberikan bantuan dana yang cukup
besar. Diceritakan ia pernah berkata: “Setiap bulan, saya berpenghasilan
500 dirham,semuanya dibelanjakan untuk kepentingan pendidikan. Sebab,
apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal.”
Imam Bukhari sangat hati-hati dan sopan
dalam berbicara dan dalam mencari kebenaran yang hakiki di saat
mengkritik para perawi. Terhadap perawi yang sudah jelas-jelas diketahui
kebohongannya, ia cukup berkata: “Perlu dipertimbangkan, para ulama
meninggalkannya atau para ulama berdiam diri tentangnya.” Perkataan yang
tegas tentang para perawi yang tercela ialah: “Hadithnya diingkari.”
Meskipun ia sangat sopan dalam
mengkritik para perawi, namun ia banyak meninggalkan hadith yang
diriwayatkan seseorang hanya kerana orang itu diragukan. Dalam sebuah
riwayat diceritakan bahawa ia berkata: “Saya meninggalkan 10.000 hadith
yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan, dan
meninggalkan pula jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatkan perawi
yang dalam pandanganku, perlu dipertimbangkan.”
Selain dikenal sebagai ahli hadith, Imam
Bukhari juga sebenarnya adalah ahli dalam fiqh. Dalam hal mengeluarkan
fatwa, ia telah sampai pada darjat mujtahid mustaqiil (bebas, tidak
terikat pendapatnya pada madzhab-madzhab tertentu) atau dapat
mengeluarkan hukum secara sendirian. Dia mempunyai pendapat-pendapat
hukum yang digalinya sendiri. Pendapat-pendapatnya itu terkadang sejalan
dengan madzhab Abu Hanifah, terkadang sesuai dengan Madzhab Syafi’i dan
kadang-kadang berbeda dengan keduanya. Selain itu pada suatu saat ia
memilih madzhab Ibn Abbas, dan disaat lain memilih madzhab Mujahid dan
‘Ata dan sebagainya. Jadi kesimpulannya adalah Imam Bukhari adalah
seorang ahli hadith yang ulung dan ahli fiqh yg berijtihad sendiri,
kendatipun yang lebih menonjol adalah setatusnya sebagai ahli hadith,
bukan sebagai ahli fiqh.
Di sela-sela kesibukannya sebagai
seorang alim, ia juga tidak melupakan kegiatan lain yang dianggap
penting untuk menegakkan Dinul Islam. Imam Bukhari sering belajar
memanah sampai mahir, sehingga dikatakan bahawa sepanjang hidupnya, ia
tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu
timbul sebagai pengamalan sunah Rasul yang mendorong dan menganjurkan
kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang
lainnya. Tujuannya adalah untuk memerangi musuh-musuh Islam dan
mempertahankannya dari kejahatan mereka.
Karya-Karya Imam Bukhari
Di antara hasil karya Imam Bukhari adalah sebagai berikut :
• Al-Jami’ as-Shahih (Shahih Bukhari).
• Al-Adab al-Mufrad.
• At-Tarikh as-Sagir.
• At-Tarikh al-Awsat.
• At-Tarikh al-Kabir.
• At-Tafsir al-Kabir.
• Al-Musnad al-Kabir.
• Kitab al-’Ilal.
• Raf’ul-Yadain fis-Salah.
• Birril-Walidain.
• Kitab al-Asyribah.
• Al-Qira’ah Khalf al-Imam.
• Kitab ad-Du’afa.
• Asami as-Sahabah.
• Kitab al-Kuna.
• Al-Jami’ as-Shahih (Shahih Bukhari).
• Al-Adab al-Mufrad.
• At-Tarikh as-Sagir.
• At-Tarikh al-Awsat.
• At-Tarikh al-Kabir.
• At-Tafsir al-Kabir.
• Al-Musnad al-Kabir.
• Kitab al-’Ilal.
• Raf’ul-Yadain fis-Salah.
• Birril-Walidain.
• Kitab al-Asyribah.
• Al-Qira’ah Khalf al-Imam.
• Kitab ad-Du’afa.
• Asami as-Sahabah.
• Kitab al-Kuna.
Sekilas Tentang Kitab AL JAMI’ AS SHAHIH (Shahih Bukhari)
Diceritakan, Imam Bukhari berkata: “Aku
bermimpi melihat Rasulullah SAW.; seolah-olah aku berdiri di hadapannya,
sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku
tanyakan mimpi itu kepada sebahagian ahli ta’bir, ia menjelaskan bahawa
aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadith
Rasulullah SAW. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk
melahirkan kitab Al-Jami’ as-Shahih.”
Dalam menghimpun hadith-hadith shahih
dalam kitabnya, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara
ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadith-hadithnya dapat
dipertanggungjawabkan. Beliau telah berusaha dengan sungguh-sungguh
untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh
secara pasti keshahihan hadith-hadith yang diriwayatkannya. Beliau
senantiasa membanding-bandingkan hadith-hadith yang diriwayatkan, satu
dengan yang lain, menyaringnya dan memlih has mana yang menurutnya
paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi
hadith-hadith tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: “Aku susun
kitab Al-Jami’ ini yang dipilih dari 600.000 hadith selama 16 tahun.”
Dan beliau juga sangat hati-hati, hal ini dapat dilihat dari pengakuan
salah seorang muridnya bernama al-Firbari menjelaskan bahawa ia
mendengar Muhammad bin Isma’il al-Bukhari berkata: “Aku susun kitab
Al-Jami’ as-Shahih ini di Masjidil Haram, dan tidaklah aku memasukkan ke
dalamnya sebuah hadith pun, kecuali sesudah aku memohonkan istikharoh
kepada Allah dengan melakukan salat dua rekaat dan sesudah aku meyakini
betul bahawa hadith itu benar-benar shahih.”
Maksud pernyataan itu ialah bahawa Imam
Bukhari mulai menyusun bab-babnya dan dasar-dasarnya di Masjidil Haram
secara sistematis, kemudian menulis pendahuluan dan pokok-pokok
bahasannya di Rawdah tempat di antara makan Nabi SAW. dan mimbar.
Setelah itu, ia mengumpulkan hadith-hadith dan menempatkannya pada
bab-bab yang sesuai. Pekerjaan ini dilakukan di Mekah, Madinah dengan
tekun dan cermat, menyusunnya selama 16 tahun.
Dengan usaha seperti itu, maka
lengkaplah bagi kitab tersebut segala faktor yang menyebabkannya
mencapai kebenaran, yang nilainya tidak terdapat pada kitab lain.
Kerananya tidak menghairankan bila kitab itu mempunyai kedudukan tinggi
dalam hati para ulama. Maka sungguh tepatlah ia mendapat predikat
sebagai “Buku Hadith Nabi yang Paling Shahih.”
Diriwayatkan bahawa Imam Bukhari berkata: “Tidaklah ku masukkan ke dalam kitab Al-Jami’ as-Shahih ini kecuali hadith-hadith yang shahih; dan ku tinggalkan banyak hadith shahih kerana khawatir membosankan.”
Diriwayatkan bahawa Imam Bukhari berkata: “Tidaklah ku masukkan ke dalam kitab Al-Jami’ as-Shahih ini kecuali hadith-hadith yang shahih; dan ku tinggalkan banyak hadith shahih kerana khawatir membosankan.”
Kesimpulan yang diperoleh para ulama,
setelah mengadakan penelitian secara cermat terhadap kitabnya,
menyatakan bahawa Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya selalu berpegang
teguh pada tingkat keshahihan yang paling tinggi, dan tidak turun dari
tingkat tersebut kecuali dalam beberapa hadith yang bukan merupakan
materi pokok dari sebuah bab, seperti hadith mutabi dan hadith syahid,
dan hadith-hadith yang diriwayatkan dari sahabat dan tabi’in.
Jumlah Hadits Kitab AL JAMI’ AS SHAHIH (Shahih Bukhari)
Al-’Allamah Ibnus-Salah dalam
Muqaddimah-nya menyebutkan, bahawa jumlah hadith Shahih Bukhari sebanyak
7.275 buah hadith, termasuk hadith-hadith yang disebutnya berulang,
atau sebanyak 4.000 hadith tanpa pengulangan. Perhitungan ini diikuti
oleh Al-”Allamah Syaikh Muhyiddin an-Nawawi dalam kitabnya, At-Taqrib.
Selain pendapat tersebut di atas, Ibn
Hajar di dalam muqaddimah Fathul-Bari, kitab syarah Shahih Bukhari,
menyebutkan, bahawa semua hadith shahih mawsil yang termuat dalam Shahih
Bukhari tanpa hadith yang disebutnya berulang sebanyak 2.602 buah
hadith. Sedangkan matan hadith yang mu’alaq namun marfu’, yakni hadith
shahih namun tidak diwasalkan (tidak disebutkan sanadnya secara
sambung-menyambung) pada tempat lain sebanyak 159 hadith. Semua hadith
Shahih Bukhari termasuk hadith yang disebutkan berulang-ulang sebanyak
7.397 buah. Yang mu’alaq sejumlah 1.341 buah, dan yang mutabi’ sebanyak
344 buah hadith. Jadi, berdasarkan perhitungan ini dan termasuk yang
berulang-ulang, jumlah seluruhnya sebanyak 9.082 buah hadith. Jumlah ini
diluar haits yang mauquf kepada sahabat dan (perkataan) yang
diriwayatkan dari tabi’in dan ulama-ulama sesudahnya.
IMAM MUSLIM
Penghimpun dan penyusun hadith terbaik
kedua setelah Imam Bukhari adalah Imam Muslim. Nama lengkapnya ialah
Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi
an-Naisaburi. Ia juga mengarang kitab As-Shahih (terkenal dengan Shahih
Muslim). Ia salah seorang ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal
hingga kini. Ia dilahirkan di Naisabur pada tahun 206 H. menurut
pendapat yang shahih sebagaimana dikemukakan oleh al-Hakim Abu Abdullah
dalam kitabnya ‘Ulama’ul-Amsar.
Kehidupam Dan Perjalanannya Mencari Ilmu Imam Muslim
Ia belajar hadith sejak masih dalam usia
dini, yaitu mulaii tahun 218 H. Ia pergi ke Hijaz, Iraq, Syam, Mesir
dan negara-negara lainnya. Dalam lawatannya Imam Muslim banyak
mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadith kepada mereka. Di
Khurasan, ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di
Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu ‘Ansan. Di Irak ia
belajar hadith kepada Ahmad bin Hambal dan Abdullah bin Maslamah; di
Hijaz belajar kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas’Abuzar; di Mesir
berguru kepada ‘Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan kepada ulama
ahli hadith yang lain.
Muslim berkali-kali mengunjungi Baghdad
untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadith, dan kunjungannya yang
terakhir pada 259 H. di waktu Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim
sering datang kepadanya untuk berguru, sebab ia mengetahui jasa dan
ilmunya. Dan ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan
Az-Zihli, ia bergabung kepada Bukhari, sehingga hal ini menjadi sebab
terputusnya hubungan dengan Az-Zihli. Muslim dalam Shahihnya maupun
dalam kitab lainnya, tidak memasukkan hadith-hadith yang diterima dari
Az-Zihli padahal ia adalah gurunya. Hal serupa ia lakukan terhadap
Bukhari. Ia tidak meriwayatkan hadith dalam Shahihnya, yang diterimanya
dari Bukhari, padahal iapun sebagai gurunya. Nampaknya pada hemat
Muslim, yang lebih baik adalah tidak memasukkan ke dalan Shahihnya
hadith-hadith yang diterima dari kedua gurunya itu, dengan tetap
mengakui mereka sebagai guru.
Wafat Imam Muslim
Imam Muslim wafat pada Minggu sore, dan
dikebumikan di kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur,
pada hari Senin, 25 Rajab 261 H. dalam usia 55 tahun.
Para Guru Imam Muslim
Selain yang telah disebutkan di atas,
Muslim masih mempunyai banyak ulama yang menjadi gurunya. Di antaranya :
Usman dan Abu Bakar, keduanya putra Abu Syaibah; Syaiban bin Farwakh,
Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harb, Amr an-Naqid, Muhammad bin
al-Musanna, Muhammad bin Yassar, Harun bin Sa’id al-Ayli, Qutaibah bin
Sa’id dan lain sebagainya.
Keahlian Dalam Hadits Imam Muslim
Apabila Imam Bukhari merupakan ulama
terkemuka di bidang hadith shahih, berpengetahuan luas mengenai
ilat-ilat dan seluk beluk hadith, serta tajam kritiknya, maka Imam
Muslim adalah orang kedua setelah Imam Bukhari, baik dalam ilmu dan
pengetahuannya maupun dalam keutamaan dan kedudukannya. Imam Muslim
banyak menerima pujian dan pengakuan dari para ulama ahli hadith maupun
ulama lainnya. Al-Khatib al-Baghdadi berketa, “Muslim telah mengikuti
jejak Bukhari, memperhatikan ilmunya dan menempuh jalan yang
dilaluinya.” Pernyataan ini tidak bererti bahawa Muslim hanyalah seorang
pengekor. Sebab, ia mempunyai ciri khas dan karakteristik tersendiri
dalam menyusun kitab, serta metode baru yang belum pernah diperkenalkan
orang sebelumnya.
Abu Quraisy al-Hafiz menyatakan bahawa
di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadith hanya empat
orang; salah satu di antaranya adalah Muslim (Tazkiratul Huffaz, jilid
2, hal. 150). Maksud perkataan tersebut adalah ahli-ahli hadith
terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy, sebab ahli hadith itu cukup
banyak jumlahnya.
Karya-Karya Imam Muslim
Imam Muslim meninggalkan karya tulis yang tidak sedikit jumlahnya, di antaranya:
• Jami’ as-Shahih (Shahih Muslim).
• Al-Musnadul Kabir (kitab yang menerangkan nama-nama para perawi hadith).
• Kitabul-Asma’ wal-Kuna.
• Kitab al-’Ilal.
• Kitabul-Aqran.
• Kitabu Su’alatihi Ahmad bin Hambal.
• Kitabul-Intifa’ bi Uhubis-Siba’.
• Kitabul-Muhadramin.
• Kitabu man Laisa lahu illa Rawin Wahid.
• Kitab Auladis-Sahabah.
• Kitab Awhamil-Muhadditsin.
• Jami’ as-Shahih (Shahih Muslim).
• Al-Musnadul Kabir (kitab yang menerangkan nama-nama para perawi hadith).
• Kitabul-Asma’ wal-Kuna.
• Kitab al-’Ilal.
• Kitabul-Aqran.
• Kitabu Su’alatihi Ahmad bin Hambal.
• Kitabul-Intifa’ bi Uhubis-Siba’.
• Kitabul-Muhadramin.
• Kitabu man Laisa lahu illa Rawin Wahid.
• Kitab Auladis-Sahabah.
• Kitab Awhamil-Muhadditsin.
Kitab Shahih Muslim
Di antara kitab-kitab di atas yang
paling agung dan sangat bermanfat luas, serta masih tetap beredar hingga
kini ialah Al-Jami’ as-Shahih, terkenal dengan Shahih Muslim. Kitab ini
merupakan salah satu dari dua kitab yang paling shahih dan murni
sesudah Kitabullah. Kedua kitab Shahih ini diterima baik oleh segenap
umat Islam.
Imam Muslim telah mengerahkan seluruh
kemampuannya untuk meneliti dan mempelajari keadaan para perawi,
menyaring hadith-hadith yang diriwayatkan, membandingkan riwayat-riwayat
itu satu sama lain. Muslim sangat teliti dan hati-hati dalam
menggunakan lafaz-lafaz, dan selalu memberikan isyarat akan adanya
perbedaan antara lafaz-lafaz itu. Dengan usaha yang sedeemikian rupa,
maka lahirlah kitab Shahihnya.
Bukti konkrit mengenai keagungan kitab
itu ialah suatu kenyataan, di mana Muslim menyaring isi kitabnya dari
ribuan riwayat yang pernah didengarnya. Diceritakan, bahawa ia pernah
berkata: “Aku susun kitab Shahih ini yang disaring dari 300.000 hadith.”
Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah,
yang berkata : “Aku menulis bersama Muslim untuk menyusun kitab
Shahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah hadith.
Dalam pada itu, Ibn Salah menyebutkan
dari Abi Quraisy al-Hafiz, bahawa jumlah hadith Shahih Muslim itu
sebanyak 4.000 buah hadith. Kedua pendapat tersebut dapat kita
kompromikan, yaitu bahawa perhitungan pertama memasukkan hadith-hadith
yang berulang-ulang penyebutannya, sedangkan perhitungan kedua hanya
menghitung hadith-hadith yang tidak disebutkan berulang.
Imam Muslim berkata di dalam Shahihnya:
“Tidak setiap hadith yang shahih menurutku, aku cantumkan di sini, yakni
dalam Shahihnya. Aku hanya mencantumkan hadith-hadith yang telah
disepakati oleh para ulama hadith.”
Imam Muslim pernah berkata, sebagai ungkapan gembira atas karunia Tuhan yang diterimanya: “Apabila penduduk bumi ini menulis hadith selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad ini.”
Imam Muslim pernah berkata, sebagai ungkapan gembira atas karunia Tuhan yang diterimanya: “Apabila penduduk bumi ini menulis hadith selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad ini.”
Ketelitian dan kehati-hatian Muslim
terhadap hadith yang diriwayatkan dalam Shahihnya dapat dilihat dari
perkataannya sebagai berikut : “Tidaklah aku mencantumkan sesuatu hadith
dalam kitabku ini, melainkan dengan alasan; juga tiada aku menggugurkan
sesuatu hadith daripadanya melainkan dengan alas an pula.”
Imam Muslim di dalam penulisan Shahihnya
tidak membuat judul setiap bab secara terperinci. Adapun judul-judul
kitab dan bab yang kita dapati pada sebahagian naskah Shahih Muslim yang
sudah dicetak, sebenarnya dibuat oleh para pengulas yang datang
kemudian. Di antara pengulas yang paling baik membuatkan judul-judul bab
dan sistematika babnya adalah Imam Nawawi dalam Syarahnya.
IMAM ABU DAWUD
Setelah Imam Bukhari dan Imam Muslim,
kini giliran Imam Abu Dawud yang juga merupakan tokoh kenamaan ahli
hadith pada zamannya. Kealiman, kesalihan dan kemuliaannya semerbak
mewangi hingga kini.
Abu Dawud nama lengkapnya ialah Sulaiman
bin al-Asy’as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin ‘Amr al-Azdi
as-Sijistani, seorang imam ahli hadith yang sangat teliti, tokoh
terkemuka para ahli hadith setelah dua imam hadith Bukhari dan Muslim
serta pengarang kitab Sunan. Ia dilahirkan pada tahun 202 H/817 M di
Sijistan.
Perkembangan Dan Perlawatannya Imam Abu Dawud
Sejak kecilnya Abu Dawud sudah mencintai
ilmu dan para ulama, bergaul dengan mereka untuk dapat mereguk dan
menimba ilmunya. Belum lagi mencapai usia dewasa, ia telah mempersiapkan
dirinya untuk mengadakan perlawatan, mengelilingi berbagai negeri. Ia
belajar hadith dari para ulama yang tidak sedikit jumlahnya, yang
dijumpainya di Hijaz, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Sagar, Khurasan dan
negeri-negeri lain. Perlawatannya ke berbagai negeri ini membantu dia
untuk memperoleh pengetahuan luas tentang hadith, kemudian hadith-hadith
yang diperolehnya itu disaring dan hasil penyaringannya dituangkan
dalam kitab As-Sunan. Abu Dawud mengunjungi Baghdad berkali-kali. Di
sana ia mengajarkan hadith dan fiqh kepada para penduduk dengan memakai
kitab Sunan sebagai pegangannya. Kitab Sunan karyanya itu
diperlihatkannya kepada tokoh ulama hadith, Ahmad bin Hanbal.
Dengan bangga Imam Ahmad memujinya
sebagai kitab yang sangat indah dan baik. Kemudian Abu Dawud menetap di
Basrah atas permintaan gubernur setempat yang menghendaki supaya Basrah
menjadi “Ka’bah” bagi para ilmuwan dan peminat hadith.
Guru-Gurunya Imam Abu Dawud
Para ulama yang menjadi guru Imam Abu
Dawud banyak jumlahnya. Di antaranya guru-guru yang paling terkemuka
ialah Ahmad bin Hanbal, al-Qa’nabi, Abu ‘Amr ad-Darir, Muslim bin
Ibrahim, Abdullah bin Raja’, Abu’l Walid at-Tayalisi dan lain-lain.
Sebahagian gurunya ada pula yang menjadi guru Imam Bukhari dan Imam
Muslim, seperti Ahmad bin Hanbal, Usman bin Abi Syaibah dan Qutaibah bin
Sa’id.
Muridnya (Para Ulama Yang Mewarisi Haditsnya) Imam Abu Dawud
Ulama-ulama yang mewarisi hadithnya dan
mengambil ilmunya, antara lain Abu ‘Isa at-Tirmidzi, Abu Abdur Rahman
an-Nasa’i, putranya sendiri Abu Bakar bin Abu Dawud, Abu Awanah, Abu
Sa’id al-A’rabi, Abu Ali al-Lu’lu’i, Abu Bakar bin Dassah, Abu Salim
Muhammad bin Sa’id al-Jaldawi dan lain-lain.
Cukuplah sebagai bukti pentingnya Abu
Dawud, bahawa salah seorang gurunya, Ahmad bin Hanbal pernah
meriwayatkan dan menulis sebuah hadith yang diterima dari padanya.
Hadith tersebut ialah hadith yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dari
Hammad bin Salamah dari Abu Ma’syar ad-Darami, dari ayahnya, sebagai
berikut: “Rasulullah SAW. ditanya tentang ‘atirah, maka ia menilainya
baik.”
Akhlak Serta Sifat-Sifatnya Yang Terpuji Imam Abu Dawud
Abu Dawud adalah salah seorang ulama
yang mengamalkan ilmunya dan mencapai darjat tinggi dalam ibadah,
kesucian diri, wara’ dan kesalehannya. Ia adalah seorang sosok manusia
utama yang patut diteladani perilaku, ketenangan jiwa dan
keperibadiannya. Sifat-sifat Abu Dawud ini telah diungkapkan oleh
sebahagian ulama yang menyatakan:
“Abu Dawud menyerupai Ahmad bin Hanbal
dalam perilakunya, ketenangan jiwa dan kebagusan pandangannya serta
keperibadiannya. Ahmad dalam sifat-sifat ini menyerupai Waki’, Waki
menyerupai Sufyan as-Sauri, Sufyan menyerupai Mansur, Mansur menyerupai
Ibrahim an-Nakha’i, Ibrahim menyerupai ‘Alqamah dan ia menyerupai Ibn
Mas’ud. Sedangkan Ibn Mas’ud sendiri menyerupai Nabi SAW dalam
sifat-sifat tersebut.”
Sifat dan keperibadian yang mulia seperti ini menunjukkan atas kesempurnaan keberagamaan, tingkah laku dan akhlak.
Abu Dawud mempunyai pandangan dan falsafah sendiri dalam cara berpakaian. Salah satu lengan bajunya lebar namun yang satunya lebih kecil dan sempit. Seseorang yang melihatnya bertanya tentang kenyentrikan ini, ia menjawab:
Abu Dawud mempunyai pandangan dan falsafah sendiri dalam cara berpakaian. Salah satu lengan bajunya lebar namun yang satunya lebih kecil dan sempit. Seseorang yang melihatnya bertanya tentang kenyentrikan ini, ia menjawab:
“Lengan baju yang lebar ini digunakan
untuk membawa kitab-kitab, sedang yang satunya lagi tidak diperlukan.
Jadi, kalau dibuat lebar, hanyalah berlebih-lebihan.
Pujian Para Ulama Kepada Imam Abu Dawud
Abu Dawud adalah juga merupakan “bendera
Islam” dan seorang hafiz yang sempurna, ahli fiqh dan berpengetahuan
luas terhadap hadith dan ilat-ilatnya. Ia memperoleh penghargaan dan
pujian dari para ulama, terutama dari gurunya sendiri, Ahmad bin Hanbal.
Al-Hafiz Musa bin Harun berkata mengenai Abu Dawud:
“Abu Dawud diciptakan di dunia hanya
untuk hadith, dan di akhirat untuk surga. Aku tidak melihat orang yang
lebih utama melebihi dia.”
Sahal bin Abdullah At-Tistari, seorang yang alim mengunjungi Abu Dawud. Lalu dikatakan kepadanya: “Ini adalah Sahal, datang berkunjung kepada tuan.”
Sahal bin Abdullah At-Tistari, seorang yang alim mengunjungi Abu Dawud. Lalu dikatakan kepadanya: “Ini adalah Sahal, datang berkunjung kepada tuan.”
Abu Dawud pun menyambutnya dengan hormat
dan mempersilahkan duduk. Kemudian Sahal berkata: “Wahai Abu Dawud,
saya ada keperluan keadamu.” Ia bertanya: “Keperluan apa?” “Ya, akan
saya utarakan nanti, asalkan engkau berjanji akan memenuhinya sedapat
mungkin,” jawab Sahal. “Ya, aku penuhi maksudmu selama aku mampu,”
tandan Abu Dawud. Lalu Sahal berkata: “Jujurkanlah lidahmu yang engkau
pergunakan untuk meriwayatkan hadith dari Rasulullah SAW. sehingga aku
dapat menciumnya.” Abu Dawud pun lalu menjulurkan lidahnya yang kemudian
dicium oleh Sahal.
Ketika Abu Dawud menyusun kitab Sunan,
Ibrahim al-Harbi, seorang ulama ahli hadith berkata: “Hadith telah
dilunakkan bagi Abu Dawud, sebagaimana besi dilunakkan bagi Nabi Dawud.”
Ungkapan ini adalah kata-kata simbolik dan perumpamaan yang menunjukkan
atas keutamaan dan keunggulan seseorang di bidang penyusunan hadith. Ia
telah mempermudah yang sulit, mendekatkan yang jauh dan memudahkan yang
masih rumit dan pelik.
Abu Bakar al-Khallal, ahli hadith dan
fiqh terkemuka yang bermadzhab Hanbali, menggambarkan Abu Dawud sebagai
berikut; Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’as, imam terkemuka pada zamannya
adalah seorang tokoh yang telah menggali beberapa bidang ilmu dan
mengetahui tempat-tempatnya, dan tiada seorang pun pada masanya yang
dapat mendahului atau menandinginya. Abu Bakar al-Asbihani dan Abu Bakar
bin Sadaqah senantiasa menyinggung-nyingung Abu Dawud kerana ketinggian
darjatnya, dan selalu menyebut-nyebutnya dengan pujian yang tidak
pernah mereka berikan kepada siapa pun pada masanya.
Mazhab Fiqh Abu Dawud
Syaikh Abu Ishaq asy-Syairazi dalam
asy-Syairazi dalam Tabaqatul-Fuqaha-nya menggolongkan Abu Dawud ke dalam
kelompok murid-murid Imam Ahmad. Demikian juga Qadi Abu’l-Husain
Muhammad bin al-Qadi Abu Ya’la (wafat 526 H) dalam
Tabaqatul-Hanabilah-nya. Penilaian ini nampaknya disebabkan oleh Imam
Ahmad merupakan gurunya yang istimewa. Menurut satu pendapat, Abu Dawud
adalah bermadzhab Syafi’i.
Menurut pendapat yang lain, ia adalah
seorang mujtahid sebagaimana dapat dilihat pada gaya susunan dan
sistematika Sunan-nya. Terlebih lagi bahawa kemampuan berijtihad
merupakan salah satu sifat khas para imam hadith pada masa-masa awal.
Memandang Tinggi Kedudukan Ilmu Dan Ulama
Sikap Abu Dawud yang memandang tinggi terhadap kedudukan ilmu dan ulama ini dapat dilihat pada kisah berikut sebagaimana dituturkan, dengan sanad lengkap, oleh Imam al-Khattabi, dari Abu Bakar bin Jabir, pembantu Abu Dawud. Ia berkata:
Sikap Abu Dawud yang memandang tinggi terhadap kedudukan ilmu dan ulama ini dapat dilihat pada kisah berikut sebagaimana dituturkan, dengan sanad lengkap, oleh Imam al-Khattabi, dari Abu Bakar bin Jabir, pembantu Abu Dawud. Ia berkata:
“Aku bersama Abu Dawud tinggi di
Baghdad. Pada suatu waktu, ketika kami selesai menunaikan shalat
Maghrib, tiba-tiba pintu rumah diketuk orang, lalu pintu aku buka dan
seorang pelayan melaporkan bahawa Amir Abu Ahmad al-Muwaffaq mohon ijin
untuk masuk. Kemudian aku melapor kepada Abu Dawud tentang tamu ini, dan
ia pun mengijinkan. Sang Amir pun masuk, lalu duduk. Tak lama kemudian
Abu Dawud menemuinya seraya berkata: “Gerangan apakah yang membawamu
datang ke sini pada saat seperti ini?”
“Tiga kepentingan,” jawab Amir. “Kepentingan apa?” tanyanya.
“Tiga kepentingan,” jawab Amir. “Kepentingan apa?” tanyanya.
Amir menjelaskan, “Hendaknya tuan
berpindah ke Basrah dan menetap di sana, supaya para penuntut ilmu dari
berbagai penjuru dunia datang belajar kepada tuan; dengan demikian
Basrah akan makmur kembali. Ini mengingat bahawa Basrah telah hancur dan
ditinggalkan orang akibat tragedy Zenji.”
Abu Dawud berkata: “Itu yang pertama, sebutkan yang kedua!”
“Hendaknya tuan berkenan mengajarkan kitab Sunan kepada putra-putraku,” kata Amir.
“Ya, ketiga?” Tanya Abu Dawud kembali.
Amir menerangkan: “Hendaknya tuan mengadakan majlis tersendiri untuk mengajarkan hadith kepada putra-putra khalifah, sebab mereka tidak mau duduk bersama-sama dengan orang umum.”
Abu Dawud menjawab: “Permintaan ketiga tidak dapat aku penuhi; sebab manusia itu baik pejabat terhormat maupun rakyat melarat, dalam bidang ilmu sama.”
Abu Dawud berkata: “Itu yang pertama, sebutkan yang kedua!”
“Hendaknya tuan berkenan mengajarkan kitab Sunan kepada putra-putraku,” kata Amir.
“Ya, ketiga?” Tanya Abu Dawud kembali.
Amir menerangkan: “Hendaknya tuan mengadakan majlis tersendiri untuk mengajarkan hadith kepada putra-putra khalifah, sebab mereka tidak mau duduk bersama-sama dengan orang umum.”
Abu Dawud menjawab: “Permintaan ketiga tidak dapat aku penuhi; sebab manusia itu baik pejabat terhormat maupun rakyat melarat, dalam bidang ilmu sama.”
Ibn Jabir menjelaskan: “Maka sejak itu
putra-putra khalifah hadir dan duduk bersama di majlis taklim; hanya
saja di antara mereka dengan orang umum di pasang tirai, dengan demikian
mereka dapat belajar bersama-sama.”
Maka hendaknya para ulama tidak mendatangi para raja dan penguasa, tetapi merekalah yang harus datang kepada para ulama. Dan kesamaan darjat dalam ilmu dan pengetahuan ini, hendaklah dikembangkan apa yang telah dilakukan Abu Dawud tersebut.
Maka hendaknya para ulama tidak mendatangi para raja dan penguasa, tetapi merekalah yang harus datang kepada para ulama. Dan kesamaan darjat dalam ilmu dan pengetahuan ini, hendaklah dikembangkan apa yang telah dilakukan Abu Dawud tersebut.
Wafat Imam Abu Dawud
Setelah mengalami kehidupan penuh berkat
yang diisi dengan aktivitas ilmia, menghimpun dan menyebarluaskan
hadith, Abu Dawud meninggal dunia di Basrah yang dijadikannya sebagai
tempat tinggal atas permintaan Amir sebagaimana telah diceritakan. Ia
wafat pada tanggal 16 Syawwal 275 H/889M. Semoga Allah senantiasa
melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepadanya.
Karya-Karya Imam Abu Dawud
Imam Abu Dawud banyak memiliki karya, antara lain:
• Kitab AS-Sunnan (Sunan Abu Dawud).
• Kitab Al-Marasil.
• Kitab Al-Qadar.
• An-Nasikh wal-Mansukh.
• Fada’il al-A’mal.
• Kitab Az-Zuhd.
• Dala’il an-Nubuwah.
• Ibtida’ al-Wahyu.
• Ahbar al-Khawarij.
• Kitab AS-Sunnan (Sunan Abu Dawud).
• Kitab Al-Marasil.
• Kitab Al-Qadar.
• An-Nasikh wal-Mansukh.
• Fada’il al-A’mal.
• Kitab Az-Zuhd.
• Dala’il an-Nubuwah.
• Ibtida’ al-Wahyu.
• Ahbar al-Khawarij.
Di antara karya-karya tersebut yang paling bernilai tinggi dan masih tetap beredar adalah kitab Amerika Serikat-Sunnan, yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Abi Dawud.
Metode Abu Dawud dalam Penyusunan Sunan-nya
Karya-karya di bidang hadith,
kitab-kitab Jami’ Musnad dan sebagainya disamping berisi hadith-hadith
hukum, juga memuat hadith-hadith yang berkenaan dengan amal-amal yang
terpuji (fada’il a’mal) kisah-kisah, nasehat-nasehat (mawa’iz), adab dan
tafsir. Cara demikian tetap berlangsung sampai datang Abu Dawud. Maka
Abu Dawud menyusun kitabnya, khusus hanya memuat hadith-hadith hukum dan
sunnah-sunnah yang menyangkut hukum. Ketika selesai menyusun kitabnya
itu kepada Imam Ahmad bin Hanbal, dan Ibn Hanbal memujinya sebagai kitab
yang indah dan baik.
Abu Dawud dalam sunannya tidak hanya
mencantumkan hadith-hadith shahih semata sebagaimana yang telah
dilakukan Imam Bukhari dan Imam Muslim, tetapi ia memasukkan pula
kedalamnya hadith shahih, hadith hasan, hadith dha’if yang tidak terlalu
lemah dan hadith yang tidak disepakati oleh para imam untuk
ditinggalkannya. Hadith-hadith yang sangat lemah, ia jelaskan
kelemahannya.
Cara yang ditempuh dalam kitabnya itu
dapat diketahui dari suratnya yang ia kirimkan kepada penduduk Makkah
sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan mereka mengenai kitab
Sunannya. Abu Dawud menulis sebagai berikut :
“Aku mendengar dan menulis hadith
Rasulullah SAW sebanyak 500.000 buah. Dari jumlah itu, aku seleksi
sebanyak 4.800 hadith yang kemudian aku tuangkan dalam kitab Sunan ini.
Dalam kitab tersebut aku himpun hadith-hadith shahih, semi shahih dan
yang mendekati shahih. Dalam kitab itu aku tidak mencantumkan sebuah
hadith pun yang telah disepakati oleh orang banyak untuk ditinggalkan.
Segala hadith yang mengandung kelemahan yang sangat ku jelaskan, sebagai
hadith macam ini ada hadith yang tidak shahih sanadnya. Adapun hadith
yang tidak kami beri penjelasan sedikit pun, maka hadith tersebut
bernilai salih (bias dipakai alasan, dalil), dan sebahagian dari hadith
yang shahih ini ada yang lebih shahih daripada yang lain. Kami tidak
mengetahui sebuah kitab, sesudah Qur’an, yang harus dipelajari selain
daripada kitab ini. Empat buah hadith saja dari kitab ini sudah cukup
menjadi pegangan bagi keberagaman tiap orang. Hadith tersebut adalah:
Pertama: “Segala amal itu hanyalah
menurut niatnya, dan tiap-tiap or memperoleh apa yang ia niatkan. Kerana
itu maka barang siapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya
hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya pula. Dan barang siapa hijrahnya
kerana untuk mendapatkan dunia atau kerana perempuan yang ingin
dikawininya, maka hijrahnya hanyalah kepada apa yang dia hijrah
kepadanya itu.”
Kedua: “Termasuk kebaikan Islam seseorang ialah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.”
Ketiga: “Tidaklah seseorang beriman
menjadi mukmin sejati sebelum ia merelakan untuk saudaranya apa-apa yang
ia rela untuk dirinya.”
Keempat: “Yang halal itu sudah jelas,
dan yang haram pun telah jelas pula. Di antara keduanya terdapat hal-hal
syubhat (atau samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang
siapa menghindari syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan
kehormatan dirinya; dan barang siapa terjerumus ke dalam syubhat, maka
ia telah terjerumus ke dalam perbuatan haram, ibarat penggembala yang
menggembalakan ternaknya di dekat tempat terlarang. Ketahuilah,
sesungguhnya setiap penguasa itu mempunyai larangan. Ketahuilah,
sesungguhnya larangan Allah adalah segala yang diharamkan-Nya. Ingatlah,
di dalam rumah ini terdapat sepotong daging, jika ia baik, maka baik
pulalah semua tubuh dan jika rusak maka rusak pula seluruh tubuh.
Ingatlah, ia itu hati.”
Demikianlah penegasan Abu Dawud dalam suratnya. Perkataan Abu Dawud itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
Hadith pertama adalah ajaran tentang
niat dan keikhlasan yang merupakan asas utama bagi semua amal perbuatan
diniah dan duniawiah.
Hadith kedua merupakan tuntunan dan dorongan bagi ummat Islam agar selalu melakukan setiap yang bermanfaat bagi agama dan dunia.
Hadith ketiga mengatur tentang hak-hak
keluarga dan tetangga, berlaku baik dalam pergaulan dengan orang lain,
meninggalkan sifat-sifat egoistis, dan membuang sifat iri, dengki dan
benci, dari hati masing-masing.
Hadith keempat merupakan dasar utama
bagi pengetahuan tentang halal haram, serta cara memperoleh atau
mencapai sifat wara’, yaitu dengan cara menjauhi hal-hal musykil yang
samar dan masih dipertentangkan status hukumnya oleh para ulama, kerana
untuk menganggap enteng melakukan haram.
Dengan hadith ini nyatalah bahawa keempat hadith di atas, secara umum, telah cukup untuk membawa dan menciptakan kebahagiaan.
Pendapat Ulama Terhadap Kedudukan Kitab Sunan Abu Dawud
Tidak sedikit ulama yang memuji kitab
Sunan ini. Hujatul Islam, Imam Abu Hamid al-Ghazali berkata: “Sunan Abu
Dawud sudah cukup bagi para mujtahid untuk mengetahui hadith-hadith
ahkam.” Demikian juga dua imam besar, An-Nawawi dan Ibnul Qayyim
Al-Jauziyyah memberikan pujian terhadap kitab Sunan ini bahkan beliau
menjadikan kitab ini sebagai pegangan utama di dalam pengambilan hukum.
Hadits-Hadits Abu Dawud Yang Mendapat Kritik
Imam Al-Hafiz Ibnul Jauzi telah
mengkritik beberapa hadith yang dicantumkan oleh Abu Dawud dalam
Sunannya dan memandangnya sebagai hadith-hadith maudhu’ (palsu). Jumlah
hadith tersebut sebanyak 9 buah hadith. Walaupun demikian, disamping
Ibnul Jauzi itu dikenal sebagai ulama yang terlalu mudah memvonis
“palsu”, namun kritik-kritik telah ditanggapi dan sekaligus dibantah
oleh sebahagian ahli hadith, seperti Jalaluddin as-Suyuti. Dan andaikata
kita menerima kritik yang dilontarkan Ibnul Jauzi tersebut, maka
sebenarnya hadith-hadith yang dikritiknya itu sedikit sekali jumlahnya,
dan hampir tidak ada pengaruhnya terhadap ribuan hadith yang terkandung
di dalam kitab Sunan tersebut. Kerana itu kami melihat bahawa
hadith-hadith yang dikritik tersebut tidak mengurangi sedikit pun juga
nilai kitab Sunan sebagai referensi utama yang dapat
dipertanggungjawabkan keabsahanya.
Jumlah Hadits Sunan Abu Dawud
Di atas telah disebutkan bahawa isi
Sunan Abu Dawud itu memuat hadith sebanyak 4.800 buah hadith. Namun
sebahagian ulama ada yang menghitungnya sebanyak 5.274 buah hadith.
Perbedaan jumlah ini disebabkan bahawa sebahagian orang yang
menghitungnya memandang sebuah hadith yang diulang-ulang sebagai satu
hadith, namun yang lain menganggapnya sebagai dua hadith atau lebih. Dua
jalan periwayatan hadith atau lebih ini telah dikenal di kalangan ahli
hadith.
Abu Dawud membagi kitab Sunannya menjadi
beberapa kitab, dan tiap-tiap kitab dibagi pula ke dalam beberapa bab.
Jumlah kitab sebanyak 35 buah, di antaranya ada 3 kitab yang tidak
dibagi ke dalam bab-bab. Sedangkan jumlah bab sebanyak 1,871 buah bab.
IMAM TIRMDZI
Setelah Imam Bukhari, Imam Muslim dan
Imam Abu Dawud, kini giliran Imam Tirmidzi, juga merupakan tokoh ahli
hadith dan penghimpun hadith yang terkenal. Karyanya yang masyhur yaitu
Kitab Al-Jami’ (Jami’ At-Tirmidzi). Ia juga tergolonga salah satu
“Kutubus Sittah” (Enam Kitab Pokok Bidang Hadith) dan ensiklopedia
hadith terkenal.
Imam al-Hafiz Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa
bin Saurah bin Musa bin ad-Dahhak Amerika Serikat-Sulami at-Tirmidzi,
salah seorang ahli hadith kenamaan, dan pengarang berbagai kitab yang
masyhur lahir pada 279 H di kota Tirmiz.
Perkembangan Dan Lawatannya Imam Tirmidzi
Kakek Abu ‘Isa at-Tirmidzi berkebangsaan
Mirwaz, kemudian pindah ke Tirmiz dan menetap di sana. Di kota inilah
cucunya bernama Abu ‘Isa dilahirkan. Semenjak kecilnya Abu ‘Isa sudah
gemar mempelajari ilmu dan mencari hadith. Untuk keperluan inilah ia
mengembara ke berbagai negeri: Hijaz, Iraq, Khurasan dan lain-lain.
Dalam perlawatannya itu ia banyak mengunjungi ulama-ulama besar dan
guru-guru hadith untuk mendengar hadith yang kem dihafal dan dicatatnya
dengan baik di perjalanan atau ketika tiba di suatu tempat. Ia tidak
pernah menyia-nyiakan kesempatan tanpa menggunakannya dengan seorang
guru di perjalanan menuju Makkah. Kisah ini akan diuraikan lebih lanjut.
Setelah menjalani perjalanan panjang
untuk belajar, mencatat, berdiskusi dan tukar pikiran serta mengarang,
ia pada akhir kehidupannya mendapat musibah kebutaan, dan beberapa tahun
lamanya ia hidup sebagai tuna netra; dalam keadaan seperti inilah
akhirnya at-Tirmidzi meninggaol dunia. Ia wafat di Tirmiz pada malam
Senin 13 Rajab tahun 279 H dalam usia 70 tahun.
Guru-Gurunya Imam Tirmidzi
Ia belajar dan meriwayatkan hadith dari
ulama-ulama kenamaan. Di antaranya adalah Imam Bukhari, kepadanya ia
mempelajari hadith dan fiqh. Juga ia belajar kepada Imam Muslim dan Abu
Dawud. Bahkan Tirmidzi belajar pula hadith dari sebahagian guru mereka.
Guru lainnya ialah Qutaibah bin Saudi
Arabia’id, Ishaq bin Musa, Mahmud bin Gailan. Said bin ‘Abdur Rahman,
Muhammad bin Basysyar, ‘Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni’, Muhammad bin
al-Musanna dan lain-lain.
Murid-Muridnya Imam Tirmidzi
Hadith-hadith dan ilmu-ilmunya
dipelajari dan diriwayatkan oleh banyak ulama. Di antaranya ialah Makhul
ibnul-Fadl, Muhammad binMahmud ‘Anbar, Hammad bin Syakir, ‘Ai-bd bin
Muhammad an-Nasfiyyun, al-Haisam bin Kulaib asy-Syasyi, Ahmad bin Yusuf
an-Nasafi, Abul-‘Abbas Muhammad bin Mahbud al-Mahbubi, yang meriwayatkan
kitab Al-Jami’ daripadanya, dan lain-lain.
Kekuatan Hafalannya Imam Tirmidzi
Abu ‘Isa at-Tirmidzi diakui oleh para
ulama keahliannya dalam hadith, kesalehan dan ketaqwaannya. Ia terkenal
pula sebagai seorang yang dapat dipercayai, amanah dan sangat teliti.
Salah satu bukti kekuatan dan cepat hafalannya ialah kisah berikut yang
dikemukakan oleh al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Tahzib at-Tahzib-nya, dari
Ahmad bin ‘Abdullah bin Abu Dawud, yang berkata:
“Saya mendengar Abu ‘Isa at-Tirmidzi
berkata: Pada suatu waktu dalam perjalanan menuju Makkah, dan ketika itu
saya telah menulis dua jilid berisi hadith-hadith yang berasal dari
seorang guru. Guru tersebut berpapasan dengan kami. Lalu saya
bertanya-tanya mengenai dia, mereka menjawab bahawa dialah orang yang ku
maksudkan itu. Kemudian saya menemuinya. Saya mengira bahawa “dua jilid
kitab” itu ada padaku. Ternyata yang ku bawa bukanlah dua jilid
tersebut, melainkan dua jilid lain yang mirip dengannya. Ketika saya
telah bertemu dengan dia, saya memohon kepadanya untuk mendengar hadith,
dan ia mengabulkan permohonan itu. Kemudian ia membacakan hadith yang
dihafalnya. Di sela-sela pembacaan itu ia mencuri pandang dan melihat
bahawa kertas yang ku pegang masih putih bersih tanpa ada tulisan
sesuatu apa pun. Demi melihat kenyataan ini, ia berkata: ‘Tidakkah
engkau malu kepadaku?’ Lalu aku bercerita dan menjelaskan kepadanya
bahawa apa yang ia bacakan itu telah ku hafal semuanya. ‘Cuba bacakan!’
suruhnya. Lalu aku pun membacakan seluruhnya secara beruntun. Ia
bertanya lagi: ‘Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?’
‘Tidak,’ jawabku. Kemudian saya meminta lagi agar dia meriwayatkan
hadith yang lain. Ia pun kemudian membacakan empat puluh buah hadith
yang tergolong hadith-hadith yang sulit atau garib, lalu berkata: ‘Cuba
ulangi apa yang ku bacakan tadi,’ Lalu aku membacakannya dari pertama
sampai selesai; dan ia berkomentar: ‘Aku belum pernah melihat orang
seperti engkau.”
Pandangan Para Kritikus Hadits Kepada Imam Tirmidzi
Para ulama besar telah memuji dan
menyanjungnya, dan mengakui akan kemuliaan dan keilmuannya. Al-Hafiz Abu
Hatim Muhammad ibn Hibban, kritikus hadith, menggolangkan Tirmidzi ke
dalam kelompok “Tsiqah” atau orang-orang yang dapat dipercayai dan kukuh
hafalannya, dan berkata:
“Tirmidzi adalah salah seorang ulama
yang mengumpulkan hadith, menyusun kitab, menghafal hadith dan
bermuzakarah (berdiskusi) dengan para ulama.”
Abu Ya’la al-Khalili dalam kitabnya ‘Ulumul Hadith menerangkan; Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi adalah seorang penghafal dan ahli hadith yang baik yang telah diakui oleh para ulama. Ia memiliki kitab Sunan dan kitab Al-Jarh wat-Ta’dil. Hadith-hadithnya diriwayatkan oleh Abu Mahbub dan banyak ulama lain. Ia terkenal sebagai seorang yang dapat dipercaya, seorang ulama dan imam yang menjadi ikutan dan yang berilmu luas. Kitabnya Al-Jami’us Shahih sebagai bukti atas keagungan darjatnya, keluasan hafalannya, banyak bacaannya dan pengetahuannya tentang hadith yang sangat mendalam.
Abu Ya’la al-Khalili dalam kitabnya ‘Ulumul Hadith menerangkan; Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi adalah seorang penghafal dan ahli hadith yang baik yang telah diakui oleh para ulama. Ia memiliki kitab Sunan dan kitab Al-Jarh wat-Ta’dil. Hadith-hadithnya diriwayatkan oleh Abu Mahbub dan banyak ulama lain. Ia terkenal sebagai seorang yang dapat dipercaya, seorang ulama dan imam yang menjadi ikutan dan yang berilmu luas. Kitabnya Al-Jami’us Shahih sebagai bukti atas keagungan darjatnya, keluasan hafalannya, banyak bacaannya dan pengetahuannya tentang hadith yang sangat mendalam.
Fiqh Tirmidzi Dan Ijtihadnya
Imam Tirmidzi, di samping dikenal
sebagai ahli dan penghafal hadith yang mengetahui kelemahan-kelemahan
dan perawi-perawinya, ia juga dikenal sebagai ahli fiqh yang mewakili
wawasan dan pandangan luas. Barang siapa mempelajari kitab Jami’nya ia
akan mendapatkan ketinggian ilmu dan kedalaman penguasaannya terhadap
berbagai mazhab fikih. Kajian-kajiannya mengenai persoalan fiqh
mencerminkan dirinya sebagai ulama yang sangat berpengalaman dan
mengerti betul duduk permasalahan yang sebenarnya. Salah satu contoh
ialah penjelasannya terhadap sebuah hadith mengenai penangguhan membayar
piutang yang dilakukan si berutang yang sudah mampu, sebagai berikut:
“Muhammad bin Basysyar bin Mahdi
menceritakan kepada kami Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abi
az-Zunad, dari al-A’rai dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, bersabda:
‘Penangguhan membayar hutang yang dilakukan oleh si berhutang) yang
mampu adalah suatu kezaliman. Apabila seseorang di antara kamu
dipindahkan hutangnya kepada orang lain yang mampu membayar, hendaklah
pemindahan hutang itu diterimanya.”
Imam Tirmidzi memberikan penjelasan sebagai berikut:
Sebahagian ahli ilmu berkata: “Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang mampu membayar dan ia menerima pemindahan itu, maka bebaslah orang yang memindahkan (muhil) itu, dan bagi orang yang dipindahkan piutangnya (muhtal) tidak dibolehkan menuntut kepada muhil.” Diktum ini adalah pendapat Syafi’i, Ahmad dan Ishaq.
Sebahagian ahli ilmu yang lain berkata: “Apabila harta seseorang (muhtal) menjadi rugi disebabkan kepailitan muhal ‘alaih, maka baginya dibolehkan menuntut bayar kepada orang pertama (muhil).”
Sebahagian ahli ilmu berkata: “Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang mampu membayar dan ia menerima pemindahan itu, maka bebaslah orang yang memindahkan (muhil) itu, dan bagi orang yang dipindahkan piutangnya (muhtal) tidak dibolehkan menuntut kepada muhil.” Diktum ini adalah pendapat Syafi’i, Ahmad dan Ishaq.
Sebahagian ahli ilmu yang lain berkata: “Apabila harta seseorang (muhtal) menjadi rugi disebabkan kepailitan muhal ‘alaih, maka baginya dibolehkan menuntut bayar kepada orang pertama (muhil).”
Mereka memakai ala an dengan perkataan Usma dan lainnya, yang menegaskan: “Tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim.”
Menurut Ishak, maka perkataan “Tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim” ini adalah “Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang dikiranya mampu, namun ternyata orang lain itu tidak mampu, maka tidak ada kerugian atas harta benda orang Muslim (yang dipindahkan utangnya) itu.”
Menurut Ishak, maka perkataan “Tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim” ini adalah “Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang dikiranya mampu, namun ternyata orang lain itu tidak mampu, maka tidak ada kerugian atas harta benda orang Muslim (yang dipindahkan utangnya) itu.”
Itulah salah satu contoh yang
menunjukkan kepada kita, bahawa betapa cemerlangnya pemikiran fiqh
Tirmidzi dalam memahami nas-nas hadith, serta betapa luas dan orisinal
pandangannya itu.
Karya-Karya Imam Tirmidzi
Imam Tirmidzi banyak menulis kitab-kitab. Di antaranya:
• Kitab Al-Jami’, terkenal dengan sebutan Sunan at-Tirmidzi.
• Kitab Al-‘Ilal.
• Kitab At-Tarikh.
• Kitab Asy-Syama’il an-Nabawiyyah.
• Kitab Az-Zuhd.
• Kitab Al-Asma’ wal-kuna.
• Kitab Al-Jami’, terkenal dengan sebutan Sunan at-Tirmidzi.
• Kitab Al-‘Ilal.
• Kitab At-Tarikh.
• Kitab Asy-Syama’il an-Nabawiyyah.
• Kitab Az-Zuhd.
• Kitab Al-Asma’ wal-kuna.
Di antara kitab-kitab tersebut yang paling besar dan terkenal serta beredar luas adalah Al-Jami’.
Sekilas Tentang AL JAMI’
Kitab ini adalah salah satu kitab karya
Imam Tirmidzi terbesar dan paling banyak manfaatnya. Ia tergolonga salah
satu “Kutubus Sittah” (Enam Kitab Pokok Bidang Hadith) dan ensiklopedia
hadith terkenal. Al-Jami’ ini terkenal dengan nama Jami’ Tirmidzi,
dinisbatkan kepada penulisnya, yang juga terkenal dengan nama Sunan
Tirmidzi. Namun nama pertamalah yang popular.
Sebahagian ulama tidak berkeberatan
menyandangkan gelar as-Shahih kepadanya, sehingga mereka menamakannya
dengan Shahih Tirmidzi. Sebenarnya pemberian nama ini tidak tepat dan
terlalu gegabah. Setelah selesai menyususn kitab ini, Tirmidzi
memperlihatkan kitabnya kepada para ulama dan mereka senang dan
menerimanya dengan baik. Ia menerangkan: “Setelah selesai menyusun kitab
ini, aku perlihatkan kitab tersebut kepada ulama-ulama Hijaz, Irak dan
Khurasa, dan mereka semuanya meridhainya, seolah-olah di rumah tersebut
ada Nabi yang selalu berbicara.”
Imam Tirmidzi di dalam Al-Jami’-nya
tidak hanya meriwayatkan hadith shahih semata, tetapi juga meriwayatkan
hadith-hadith hasan, da’if, garib dan mu’allal dengan menerangkan
kelemahannya. Dalam pada itu, ia tidak meriwayatkan dalam kitabnya itu,
kecuali hadith-hadith yang diamalkan atau dijadikan pegangan oleh ahli
fiqh. Metode demikian ini merupakan cara atau syarat yang longgar. Oleh
kerananya, ia meriwayatkan semua hadith yang memiliki nilai demikian,
baik jalan periwayatannya itu shahih ataupun tidak shahih. Hanya saja ia
selalu memberikan penjelasan yang sesuai dengan keadaan setiap hadith.
Diriwayatkan, bahawa ia pernah berkata:
“Semua hadith yang terdapat dalam kitab ini adalah dapat diamalkan.”
Oleh kerana itu, sebahagian besar ahli ilmu menggunakannya (sebagai
pegangan), kecuali dua buah hadith, yaitu:
“Sesungguhnya Rasulullah SAW menjamak shalat Zuhur dengan Asar, dan Maghrib dengan Isya, tanpa adanya sebab “takut” dan “dalam perjalanan.”
“Jika ia peminum khamar – minum lagi pada yang keempat kalinya, maka bunuhlah dia.”
“Sesungguhnya Rasulullah SAW menjamak shalat Zuhur dengan Asar, dan Maghrib dengan Isya, tanpa adanya sebab “takut” dan “dalam perjalanan.”
“Jika ia peminum khamar – minum lagi pada yang keempat kalinya, maka bunuhlah dia.”
Hadith ini adalah mansukh dan ijma ulama
menunjukan demikian. Sedangkan mengenai shalat jamak dalam hadith di
atas, para ulama berbeda pendapat atau tidak sepakat untuk
meninggalkannya. Sebahagian besar ulama berpendapat boleh (jawaz)
hukumnya melakukan salat jamak di rumah selama tidak dijadikan
kebiasaan. Pendapat ini adalah pendapat Ibn Sirin dan Asyab serta
sebahagian besar ahli fiqh dan ahli hadith juga Ibn Munzir.
Hadith-hadith da’if dan munkar yang terdapat dalam kitab ini, pada umumnya hanya menyangkut fadha’il al-a’mal (anjuran melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan). Hal itu dapat dimengerti kerana persyaratan-persyaratan bagi (meriwayatkan dan mengamalkan) hadith semacam ini lebih longgar dibandingkan dengan persyaratan bagi hadith-hadith tentang halal dan haram.
Hadith-hadith da’if dan munkar yang terdapat dalam kitab ini, pada umumnya hanya menyangkut fadha’il al-a’mal (anjuran melakukan perbuatan-perbuatan kebajikan). Hal itu dapat dimengerti kerana persyaratan-persyaratan bagi (meriwayatkan dan mengamalkan) hadith semacam ini lebih longgar dibandingkan dengan persyaratan bagi hadith-hadith tentang halal dan haram.
IMAM NASA’I
Imam Nasa’i juga merupakan tokoh ulama
kenamaan ahli hadith pada masanya. Selain Shahih Bukhari, Shahih Muslim,
Sunan Abu Dawud, Jami’ At-Tirmidzi, juga karya besar Imam Nasa’i, Sunan
us-Sughra termasuk jajaran kitab hadith pokok yang dapat dipercayai
dalam pandangan ahli hadith dan para kritikus hadith.
Ia adalah seorang imam ahli hadith
syaikhul Islam sebagaimana diungkapkan az-Zahabi dalam Tazkirah-nya Abu
‘Abdurrahman Ahmad bin ‘Ali bin Syu’aib ‘Ali bin Sinan bin Bahr
al-Khurasani al-Qadi, pengarang kitab Sunan dan kitab-kitab berharga
lainnya. Juga ia adalah seorang ulama hadith yang jadi ikutan dan ulama
terkemuka melebihi para ulama yang hidup pada zamannya.
Dilahirkan di sebuah tempat bernama Nasa’ pada tahun 215 H. Ada yang mengatakan pada tahun 214 H.
Pengembaraan Imam Nasai’i
Ia lahir dan tumbuh berkembang di Nasa’,
sebuah kota di Khurasan yang banyak melahirkan ulama-ulama dan
tokoh-tokoh besar. Di madrasah negeri kelahirannya itulah ia menghafal
Al-Qur’an dan dari guru-guru negerinya ia menerima pelajaran ilmu-ilmu
agama yang pokok. Setelah meningkat remaja, ia senang mengembara untuk
mendapatkan hadith. Belum lagi berusia 15 tahun, ia berangkat mengembara
menuju Hijaz, Iraq, Syam, Mesir dan Jazirah. Kepada ulama-ulama negeri
tersebut ia belajar hadith, sehingga ia menjadi seorang yang sangat
terkemuka dalam bidang hadith yang mempunyai sanad yang ‘Ali (sedikit
sanadnya) dan dalam bidang kekuatan periwayatan hadith.
Nasa’i merasa cocok tinggal di Mesir.
Kerananya, ia kemudian menetap di negeri itu, di jalan Qanadil. Dan
seterusnya menetap di kampung itu hingga setahun menjelang wafatnya.
Kemudian ia berpindah ke Damsyik. Di tempatnya yang baru ini ia
mengalami suatu peristiwa tragis yang menyebabkan ia menjadi syahid.
Alkisah, ia dimintai pendapat tentang keutamaan Mu’awiyyah r.a. Tindakan
ini seakan-akan mereka minta kepada Nasa’i agar menulis sebuah buku
tentang keutamaan Mu’awiyyah, sebagaimana ia telah menulis mengenai
keutamaan Ali r.a.
Oleh kerana itu ia menjawab kepada
penanya tersebut dengan “Tidakkah Engkau merasa puas dengan adanya
kesamaan darjat (antara Mu’awiyyah dengan Ali), sehingga Engkau merasa
perlu untuk mengutamakannya?” Mendapat jawaban seperti ini mereka naik
pitam, lalu memukulinya sampai-sampai buah kemaluannya pun dipukul, dan
menginjak-injaknya yang kemudian menyeretnya keluar dari masjid,
sehingga ia nyaris menemui kematiannya.
Wafat Imam Nasa’i
Tidak ada kesepakatan pendapat tentang
di mana ia meninggal dunia. Imam Daraqutni menjelaskan, bahawa di saat
mendapat cubaan tragis di Damsyik itu ia meminta supaya dibawa ke
Makkah. Permohonannya ini dikabulkan dan ia meninggal di Makkah,
kemudian dikebumikan di suatu tempat antara Safa dan Marwah. Pendapat
yang sama dikemukakan pula oleh Abdullah bin Mandah dari Hamzah al-’Uqbi
al-Misri dan ulama yang lain.
Imam az-Zahabi tidak sependapat dengan
pendapat di atas. Menurutnya yang benar ialah bahawa Nasa’i meningal di
Ramlah, suatu tempat di Palestina. Ibn Yunus dalam Tarikhnya setuju
dengan pendapat ini, demikian juga Abu Ja’far at-Tahawi dan Abu Bakar
bin Naqatah. Selain pendapat ini menyatakan bahawa ia meninggal di
Ramlah, tetapi yang jelas ia dikebumikan di Baitul Maqdis. Ia wafat pada
tahun 303 H.
Sifat-Sifat Imam Nasa’i
Ia bermuka tampan. Warna kulitnya
kemerah-merahan dan ia senang mengenakan pakaian garis-garis buatan
Yaman. Ia adalah seorang yang banyak melakukan ibadah, baik di waktu
malam atau siang hari, dan selalu beribadah haji dan berjihad.
Ia sering ikut bertempur bersama-sama
dengan gabenor Mesir. Mereka mengakui kesatriaan dan keberaniannya,
serta sikap konsistensinya yang berpegang teguh pada sunnah dalam
menangani masalah penebusan kaum Muslimin yang tetangkap lawan. Dengan
demikian ia dikenal senantiasa “menjaga jarak” dengan majlis sang Amir,
padahal ia tidak jarang ikut bertempur besamanya. Demikianlah. Maka,
hendaklah para ulama itu senantiasa menyebar luaskan ilmu dan
pengetahuan. Namun ada panggilan untuk berjihad, hendaklah mereka segera
memenuhi panggilan itu. Selain itu, Nasa’i telah mengikuti jejak Nabi
Dawud, sehari puasa dan sehari tidak.
Fiqh Nasa’i
Ia tidak saja ahli dan hafal hadith,
mengetahui para perawi dan kelemahan-kelemahan hadith yang diriwayatkan,
tetapi ia juga ahli fiqh yang berwawasan luas.
Imam Daraqutni pernah berkata mengenai
Nasa’i bahawa ia adalah salah seorang Syaikh di Mesir yang paling ahli
dalam bidang fiqh pada masanya dan paling mengetahui tentang hadith dan
perawi-perawi.
Ibnul Asirr al-Jazairi menerangkan dalam mukadimah Jami’ul Usul-nya, bahawa Nasa’i bermazhab Syafi’i dan ia mempunyai kitab Manasik yang ditulis berdasarkan mazhab Safi’i, rahimahullah.
Ibnul Asirr al-Jazairi menerangkan dalam mukadimah Jami’ul Usul-nya, bahawa Nasa’i bermazhab Syafi’i dan ia mempunyai kitab Manasik yang ditulis berdasarkan mazhab Safi’i, rahimahullah.
Karya-Karya Imam Nasa’i
Imam Nasa’i telah menusil beberapa kitab besar yang tidak sedikit jumlahnya. Di antaranya:
• As-Sunan ul-Kuba.
• As-Sunan us-Sughra, tekenal dengan nama Al-Mujtaba.
• Al-Khasa’is.
• Fada’ilus-Sahabah.
• Al-Manasik.
Di antara karya-karya tersebut, yang paling besar dan bemutu adalah Kitab As-Sunan.
• As-Sunan ul-Kuba.
• As-Sunan us-Sughra, tekenal dengan nama Al-Mujtaba.
• Al-Khasa’is.
• Fada’ilus-Sahabah.
• Al-Manasik.
Di antara karya-karya tersebut, yang paling besar dan bemutu adalah Kitab As-Sunan.
Sekilas Tentang Sunan Nasa’i
Nasa’i menerima hadith dari sejumlah
guru hadith terkemuka. Di antaranya ialah Qutaibah Imam Nasa’i Sa’id. Ia
mengunjungi kutaibah ketika berusia 15 tahun, dan selama 14 bulan
belajar di bawah asuhannya. Guru lainnya adalah Ishaq bin Rahawaih,
al-Haris bin Miskin, ‘Ali bin Khasyram dan Abu Dawud penulis as-Sunan,
serta Tirmidzi, penulis al-Jami’.
Hadith-hadithnya diriwayatkan oleh para
ulama yang tidak sedikit jumlahnya. Antara lain Abul Qasim at-Tabarani,
penulis tiga buah Mu’jam, Abu Ja’far at-Tahawi, al-Hasan bin al-Khadir
as-Suyuti, Muhammad bin Mu’awiyyah bin al-Ahmar al-Andalusi dan Abu
Bakar bin Ahmad as-Sunni, perawi Sunan Nasa’i.
Ketika Imam Nasa’i selesai menyusun
kitabnya, As-Sunan ul-Kubra, ia lalu menghadiahkannya kepada Amir
ar-Ramlah. Amir itu bertanya: “Apakah isi kitab ini shahih seluruhnya?”
“Ada yang shahih, ada yang hasan dan ada pula yang hampir serupa dengan
keduanya,” jawabnya. “Kalau demikian,” kata sang Amir, “Pisahkan
hadith-hadith yang shahih saja.” Atas permintaan Amir ini maka Nasa’i
berusaha menyeleksinya, memilih yang shahih-shahih saja, kemudian
dihimpunnya dalam suatu kitab yang dinamakan As-Sunan us-Sughra. Dan
kitab ini disusun menurut sistematika fiqh sebagaimana kitab-kitab Sunan
yang lain.
Imam Nasa’i sangat teliti dalam
menyususn kitab Sunan us-Sughra. Kerananya ulama berkata: “Kedudukan
kitab Sunan Sughra ini di bawah darjat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim,
kerana sedikit sekali hadith dha’if yang tedapat di dalamnya.”
Oleh kerana itu, kita dapatkan bahawa
hadith-hadith Sunan Sughra yang dikritik oleh Abul Faraj ibnul al-Jauzi
dan dinilainya sebagai hadith maudhu’ kepada hadith-hadith tersebut
tidak sepenuhnya dapat diterima. As-Suyuti telah menyanggahnya dan
mengemukakan pandangan yang berbeda dengannya mengenai sebahagian besar
hadith yang dikritik itu. Dalam Sunan Nasa’i terdapat hadith-hadith
shahih, hasan, dan dha’if, hanya saja hadith yang dha’if sedikit sekali
jumlahnya. Adapun pendapat sebahagian ulama yang menyatakan bahawa isi
kitab Sunan ini shahih semuanya, adalah suatu anggapan yang terlalu
sembrono, tanpa didukung oleh penelitian mendalam. Atau maksud
pernyataan itu adalah bahawa sebahagian besar ini Sunan adalah hadith
shahih.
Sunan us-Sughra inilah yang
dikategorikan sebagai salah satu kitab hadith pokok yang dapat dipercaya
dalam pandangan ahli hadith dan para kritikus hadith. Sedangkan Sunan
ul-Kubra, metode yang ditempuh Nasa’i dalam penyusunannya adalah tidak
meriwayatkan sesuatu hadith yang telah disepakati oleh ulama kritik
hadith untuk ditinggalkan.
Apabila sesuatu hadith yang dinisbahkan
kepada Nasa’i, misalnya dikatakan, “hadith riwayat Nasa’i”, maka yang
dimaksudkan ialah “riwayat yang di dalam Sunan us-Sughra, bukan Sunan
ul-Kubra”, kecuali yang dilakukan oleh sebahagian kecil para penulis.
Hal itu sebagaimana telah diterangkan oleh penulis kitab ‘Aunul-Ma’bud
Syarhu Sunan Abi Dawud pada bahagian akhir huraiannya: “Ketahuilah,
pekataan al-Munziri dalam Mukhtasar-nya dan perkataan al-Mizzi dalam
Al-Atraf-nya, hadith ini diriwayatkan oleh Nasa’i”, maka yang
dimaksudkan ialah riwayatnya dalam As-Sunan ul-Kubra, bukan Sunan
us-Sughra yang kini beredar di hampir seluruh negeri, seperti India,
Arabia, dan negeri-negeri lain. Sunan us-Sughra ini merupakan ringkasan
dari Sunan ul-Kubra dan kitab ini hampir-hampir sulit ditemukan. Oleh
kerana itu hadith-hadith yang dikatakan oleh al-Munziri dan al-Mizzi,
“diriwayatkan oleh Nasa’i” adalah tedapat dalam Sunan ul-Kubra. Kita
tidak perlu bingung dengan tiadanya kitab ini, sebab setiap hadith yang
tedapat dalam Sunan us-Sughra, terdapat pula dalam Sunanul-Kubra dan
tidak sebaliknya.
Mengakhiri pengkajian ini, perlu ditegaskan kembali, bahawa Sunan Nasa’i adalah salah satu kitab hadith pokok yang menjadi pegangan.
Mengakhiri pengkajian ini, perlu ditegaskan kembali, bahawa Sunan Nasa’i adalah salah satu kitab hadith pokok yang menjadi pegangan.
IMAM IBNU MAJAH
Ibn Majah adalah seorang kepercayaan
yang besar, yang disepakati tentang kejujurannya, dapat dijadikan
argumentasi pendapat-pendapatnya. Ia mempunyai pengetahuan luas dan
banyak menghafal hadith.
Imam Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin
Majah ar-Rabi’i al-Qarwini, pengarang kitab As-Sunan dan kitab-kitab
bemanfaat lainnya. Kata “Majah” dalam nama beliau adalah dengan huruf
“ha” yang dibaca sukun; inilah pendapat yang shahih yang dipakai oleh
mayoritas ulama, bukan dengan “ta” (majat) sebagaimana pendapat
sementara orang. Kata itu adalah gelar ayah Muhammad, bukan gelar
kakeknya, seperti diterangkan penulis Qamus jilid 9, hal. 208. Ibn Katsr
dalam Al-Bidayah wan-Nibayah, jilid 11, hal. 52.
Imam Ibn Majah dilahirkan di Qaswin pada
tahun 209 H, dan wafat pada tanggal 22 Ramadhan 273 H. Jenazahnya
dishalatkan oleh saudaranya, Abu Bakar. Sedangkan pemakamannya dilakukan
oleh kedua saudaranya, Abu Bakar dan Abdullah serta putranya, Abdullah.
Pengembaraan Imam Ibnu Majah
Ia berkembang dan meningkat dewasa
sebagai orang yang cinta mempelajari ilmu dan pengetahuan, teristimewa
mengenai hadith dan periwayatannya. Untuk mencapai usahanya dalam
mencari dan mengumpulkan hadith, ia telah melakukan lawatan dan
berkeliling di beberapa negeri. Ia melawat ke Irak, Hijaz, Syam, Mesir,
Kufah, Basrah dan negara-negara serta kota-kota lainnya, untuk menemui
dan berguru hadith kepada ulama-ulama hadith. Juga ia belajar kepada
murid-murid Malik dan al-Lais, rahimahullah, sehingga ia menjadi salah
seorang imam terkemuka pada masanya di dalam bidang ilmu nabawi yang
mulia ini.
Aktifitas Periwayatan Ibnu Majah
Ia belajar dan meriwayatkan hadith dari
Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Abdullah bin Numair, Hisyam bin
‘Ammar, Muhammad bin Ramh, Ahmad bin al-Azhar, Bisyr bin Adan dan
ulama-ulama besar lain. Sedangkan hadith-hadithnya diriwayatkan oleh
Muhammad bin ‘Isa al-Abhari, Abul Hasan al-Qattan, Sulaiman bin Yazid
al-Qazwini, Ibn Sibawaih, Ishak bin Muhammad dan ulama-ulama lainnya.
Penghargaan Para Ulama Kepada Imam Ibnu Majah
Abu Ya’la al-Khalili al-Qazwini berkata:
“Ibn Majah adalah seorang kepercayaan yang besar, yang disepakati
tentang kejujurannya, dapat dijadikan argumentasi pendapat-pendapatnya.
Ia mempunyai pengetahuan luas dan banyak menghafal hadith.”
Zahabi dalam Tazkiratul Huffaz,
melukiskannya sebagai seorang ahli hadith besarm mufasir, pengarang
kitab sunan dan tafsir, serta ahli hadith kenamaan negerinya. Ibn Kasir,
seorang ahli hadith dan kritikus hadith berkata dalam Bidayah-nya:
“Muhammad bin Yazid (Ibn Majah) adalah pengarang kitab sunan yang
masyhur. Kitabnya itu merupakan bukti atas amal dan ilmunya, keluasan
pengetahuan dan pandangannya, serta kredibilitas dan loyalitasnya kepada
hadith dan usul dan furu’.”
Karya-Karya Imam Ibnu Majah
Imam Ibn Majah mempunyai banyak karya tulis, di antaranya:
• Kitab As-Sunan, yang merupakan salah satu Kutubus Sittah (Enam Kitab Hadith yang Pokok).
• Kitab Tafsir Al-Qur’an, sebuah kitab tafsir yang besar manfatnya seperti diterangkan Ibn Kasir.
• Kitab Tarikh, berisi sejarah sejak masa sahabat sampai masa Ibn Majah.
• Kitab As-Sunan, yang merupakan salah satu Kutubus Sittah (Enam Kitab Hadith yang Pokok).
• Kitab Tafsir Al-Qur’an, sebuah kitab tafsir yang besar manfatnya seperti diterangkan Ibn Kasir.
• Kitab Tarikh, berisi sejarah sejak masa sahabat sampai masa Ibn Majah.
Sekilas Tentang Sunan Ibnu Majah
Kitab ini adalah salah satu kitab karya
Imam Ibn Majah terbesar yang masih beredar hingga sekarang. Dengan kitab
inilah, nama Ibn Majah menjadi terkenal. Ia menyusun sunan ini menjadi
beberapa kitab dan beberapa bab. Sunan ini terdiri dari 32 kitab, 1.500
bab. Sedan jumlah hadithnya sebanyak 4.000 buah hadith.
Kitab sunan ini disusun menurut
sistematika fiqh, yang dikerjakan secara baik dan indah. Ibn Majah
memulai sunan-nya ini dengan sebuah bab tentang mengikuti sunnah
Rasulullah SAW. Dalam bab ini ia menguraikan hadith-hadith yang
menunjukkan kekuatan sunnah, kewajiban mengikuti dan mengamalkannya.
Kedudukan Sunan Ibnu Majah Di Antara Kitab-Kitab Hadits
Sebahagian ulama tidak memasukkan Sunan
Ibn Majah ke dalam kelompok “Kitab Hadith Pokok” mengingat darjat Sunan
ini lebih rendah dari kitab-kitab hadith yang lima. Sebahagian ulama
yang lain menetapkan, bahawa kitab-kitab hadith yang pokok ada enam
kitab (Al-Kutubus Sittah/Enam Kitab Hadith Pokok), yaitu:
• Shahih Bukhari, karya Imam Bukhari.
• Shahih Muslim, karya Imam Muslim.
• Sunan Abu Dawud, karya Imam Abu Dawud.
• Sunan Nasa’i, karya Imam Nasa’i.
• Sunan Tirmidzi, karya Imam Tirmidzi.
• Sunan Ibn Majah, karya Imam Ibn Majah.
• Shahih Muslim, karya Imam Muslim.
• Sunan Abu Dawud, karya Imam Abu Dawud.
• Sunan Nasa’i, karya Imam Nasa’i.
• Sunan Tirmidzi, karya Imam Tirmidzi.
• Sunan Ibn Majah, karya Imam Ibn Majah.
Ulama pertama yang memandang Sunan Ibn
Majah sebagai kitab keenam adalah al-Hafiz Abul-Fardl Muhammad bin Tahir
al-Maqdisi (wafat pada 507 H) dalam kitabnya Atraful Kutubus Sittah dan
dalam risalahnya Syurutul ‘A’immatis Sittah.
Pendapat itu kemudian diikuti oleh
al-Hafiz ‘Abdul Gani bin al-Wahid al-Maqdisi (wafat 600 H) dalam
kitabnya Al-Ikmal fi Asma’ ar-Rijal. Selanjutnya pendapat mereka ini
diikuti pula oleh sebahagian besar ulama yang kemudian.
Mereka mendahulukan Sunan Ibn Majah dan
memandangnya sebagai kitab keenam, tetapi tidak mengkategorikan kitab
Al-Muwatta’ karya Imam Malik sebagai kitab keenam, padahal kitab ini
lebih shahih daripada Sunan Ibn Majah, hal ini mengingat bahawa Sunan
Ibn Majah banyak zawa’idnya (tambahannya) atas Kutubul Khamsah. Berbeda
dengan Al-Muwatta’, yang hadith-hadith itu kecuali sedikit sekali,
hampir seluruhnya telah termuat dalam Kutubul Khamsah.
Di antara para ulama ada yang menjadikan
Al-Muwatta’ susunan Imam Malik ini sebagai salah satu Usul us-Sittah
(Enam Kitab Pokok), bukan Sunan Ibn Majah. Ulama pertama yang
berpendapat demikian adalah Abul Hasan Ahmad bin Razin al-Abdari
as-Sarqisti (wafat sekitar tahun 535 H) dalam kitabnya At-Tajrid fil
Jam’i Bainas-Sihah. Pendapat ini diikuti oleh Abus Sa’adat Majduddin
Ibnul Asir al-Jazairi asy-Syafi’i (wafat 606 H). Demikian pula az-Zabidi
asy-Syafi’i (wafat 944 H) dalam kitabnya Taysirul Wusul.
Nilai Hadits-Hadits Sunan Ibnu Majah
Sunan Ibn Majah memuat hadith-hadith
shahih, hasan, dan da’if (lemah), bahkan hadith-hadith munkar dan
maudhu’ meskipun dalam jumlah sedikit.
Martabat Sunan Ibn Majah ini berada di bawah martabat Kutubul Khamsah (Lima Kitab Pokok). Hal ini kerana kitab sunan ini yang paling banyaknya hadith-hadith da’if di dalamnya.
Martabat Sunan Ibn Majah ini berada di bawah martabat Kutubul Khamsah (Lima Kitab Pokok). Hal ini kerana kitab sunan ini yang paling banyaknya hadith-hadith da’if di dalamnya.
Oleh kerana itu tidak sayugianya kita
menjadikan hadith-hadith yang dinilai lemah atau palsu dalam Sunan Ibn
Majah ini sebagai dalil. Kecuali setelah mengkaji dan meneliti terlebih
dahulu mengenai keadaan hadith-hadith tersebut. Bila ternyata hadith
dimaksud itu shahih atau hasan, maka ia boleh dijadikan pegangan. Jika
tidak demikian adanya, maka hadith tersebut tidak boleh dijadikan dalil.
Sulasiyyat Ibnu Majah
Ibn Majah telah meriwayatkan beberapa
buah hadith dengan sanad tinggi (sedikit sanadnya), sehingga antara dia
dengan Nabi SAW hanya terdapat tiga perawi. Hadith semacam inilah yang
dikenal dengan sebutan Sulasiyyat
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
Nama-nama Kitab Enam
Ulama-ulama Mutaakhkhirin sependapat menetapkan bahwa kitab pokok lima buah, yaitu:
Ulama-ulama Mutaakhkhirin sependapat menetapkan bahwa kitab pokok lima buah, yaitu:
1. Shahib al Bukhary
2. Shahih Muslim
3. Sunan Abu Daud
4. Sunan An Nasa-y
5. Sunan At Turmudzy
2. Shahih Muslim
3. Sunan Abu Daud
4. Sunan An Nasa-y
5. Sunan At Turmudzy
Kitab yang lima tersebut di atas mereka
namai “Al ushul ‘l-Khamsah” atau “Al Kutubu ‘I-Khamsah”. Sebagian ulama
Mutaakhkhirin , yaitu Abdul Fadlli ibn Thahir, menggolongkan pula
kedalamnya sebuah kitab pokok lagi, sehingga terkenallah di dalam
masyarakat “Al Kutubu ‘I-Sittah” (Kitab Enam). Beliau memasukkan Sunan
Ibnu Majah menjadi kitab pokok yang ke enam.
Shahih Al Bukhary, adalah kitab yang
mula-mula yang membukukan hadits-hadits shahih. Kebanyakan ulama hadits
telah sepakat menetapkan bahwa Shahih Al Bukhary itu adalah
shahih-shahih kitab sesudah Al-Qur’an.
Shahih Muslim ini kitab yang kedua, pokok yang kedua dari kitab-kitab hadist yang menjadi pegangan. Sesudah Shahih Bukhary, Shahih Muslimah yang dijadikan pedoman. Shahih muslim lebih baik susunannya daripada shahih Al-Bukhary, karena itu lebih mudah kita mencari hadits di dalamnya, daripada mencari di dalam Shahih Al Bukhary.
Shahih Muslim ini kitab yang kedua, pokok yang kedua dari kitab-kitab hadist yang menjadi pegangan. Sesudah Shahih Bukhary, Shahih Muslimah yang dijadikan pedoman. Shahih muslim lebih baik susunannya daripada shahih Al-Bukhary, karena itu lebih mudah kita mencari hadits di dalamnya, daripada mencari di dalam Shahih Al Bukhary.
Sunan ini bernama Al Mujtaba mina
‘I-sunan (sunan-sunan pilihan). Sunan ini dinamai Al Mujtaba karena pada
mula-mulanya An Nasa-y menyusun sunannya yang lebih besar lalu
memberikannya kepada seorang Amir di Ar Ramlah. Amir itu bertanya :
“Apakah isi sunan ini shahih seluruhnya?” Jawab An Nasa-y: ‘Isinya ada
yang shahih, ada yang hasan dan ada yang hampir serupa dengan keduanya”.
Hadits yang amat lemah atau tidak sah sanadnya aku terangkan di
akhirnya. Tak kusebut dalam kitab ini hadits-hadits yang ditolak oleh
seluruh orang, dan yang tak kukatakan apa-apa berarti: hadits yang baik.
Sunan Abu Daud berisi hadits hukum;
sedikit saja yang berhubungan dengan urusan-urusan lain. Kata
penyusunannya, At Turmudzy: “Aku tidak memasukkan ke dalam kitab ini
melainkan hadits yang sekurang-kurangya telah diamalkan oleh sebagian
fuqaha.
Sunan ini di bawah daripada segala kitab yang tersebut di atas. Ibnu Thahir Al Maqdsy, memandang sunan ini pokok yang keenam.
Sunan ini di bawah daripada segala kitab yang tersebut di atas. Ibnu Thahir Al Maqdsy, memandang sunan ini pokok yang keenam.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Kitab Hadith Shahih yang Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah.
Abdurrahman. Studi Kritik Hadits. Jakarta: Teras. 2005.
Abdurrahman. Studi Kritik Hadits. Jakarta: Teras. 2005.
A. Yamin. Metodologi Kritis Hadits. Jakarta: Pustaka Hidayah. 1992
Hasbi Ash-Shiddieqyi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Jakarta: Bulan Bintang. 1990
Hasbi Ash-Shiddieqyi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Jakarta: Bulan Bintang. 1990
Munzier Suparta. Ilmu Hadits. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2003
Subhi Al-Salih. Ulum Al-Hadits wa Mustalahuh. Bairut: Daral-ilm li al-Malaiyin. 1977.
Subhi Al-Salih. Ulum Al-Hadits wa Mustalahuh. Bairut: Daral-ilm li al-Malaiyin. 1977.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar